Apr 7, 2014

I'm baaaaaack!!!

Holaaa~



It's been two months since the last time I posted my review here and my blog has been on hiatus. No,  I'm not going anywhere, actually. I've only been a lazy blogger. Writing review is not just about write your thought, right? You have to find the very right mood to finish what you've started. I even missed the Oscar season and didn't write my prediction here. Not that I didn't watch movies for such a long time, it just sounds impossible for me. To tell you the truth, I was busy with my work and when I got home, I just lost my mood to write, and sayonara... no blog post for weeks. 

So, you might think, what's going on during my hiatus? Well, nothing interesting actually. You only missed my movie review such as Jack Ryan: Shadow Recruit, Comic 8, Robocop, and Divergent. Those are movies I watched on big screen. There are others like American Hustle, 12 Years a Slave, Her, Blue Jasmine, etc I watched at home. I'll put my review here later, one by one.

No need to worry, from now on, I'm starting to write again! I know, I know, no one wait for my post, but hey.. let me feel like you need my review, right? I'm gonna post all my review during my hiatus, even it's two months late. For me, there's no such thing called late, it's always come in the right time

So, I hope you enjoy my review, and once again, I'm back! 


Jan 31, 2014

The Secret Life of Walter Mitty Review


"To see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, draw closer, to find each other, and to feel. That is the purpose of life"

Diangkat dari short story berjudul sama karangan James Thurber di tahun 1939, ini adalah kali keduanya kisah si Walter Mitty diangkat ke layar lebar. Pertama kali diangkat ke sebuah film tahun 1947, kali ini Ben Stiller yang mencoba peruntungan dengan menyutradarai, memproduseri dan membintangi sendiri film ini. Pengembangan proyek remake film ini sebenarnya sudah mengemuka sejak tahun 1994, namun pergantian sutradara, penulis naskah hingga pemeran utamanya membuat proyek ini tak kunjung usai. Akhirnya setelah panjangnya proses, terpilihlah Ben Stiller sebagai sutradara sekaligus bintang utamanya, sementara naskahnya sendiri dikerjakan oleh Steve Conrad, orang yang sama yang pernah menulis naskah The Pursuit of Happyness. Nama Ben Stiller mungkin tidak begitu populer sebagai sutradara, padahal sebelumnya ia pernah menyutradarai beberapa film, diantaranya Reality Bites, The Cable Guy, Zoolander hingga Tropic Thunder.

Sherlock Season 3 Review

"Oh, do your research. I'm not a hero, I'm a high-functioning sociopath"
Terbayar sudah penantian panjang para Sherlockian. Setelah dua tahun lalu miniseri ini berakhir dengan misteri lolosnya Sherlock dari maut, awal tahun ini akhirnya Sherlock Holmes kembali! Kesibukan dua pemeran utamanya, yakni Benedict Cumberbatch dan Martin Freeman membuat miniseri ini harus mengalami hiatus panjang. Bayangkan saja, di tahun 2013, ada 5 film Benedict Cumberbatch yang dirilis, sedangkan Martin Freeman punya 3 film yang dirilis. Selain itu keduanya sama-sama terlibat dalam proyek besar Peter Jackson dalam trilogi The Hobbit. Maka wajarlah kalau harus ada jeda dua tahun. Ironisnya, penantian panjang dua tahun itu hanya dibayar dengan 3 episode, dan kemudian Sherlockian harus menunggu lagi hingga waktu yang belum ditentukan untuk mengetahui kelanjutannya, karena hingga saat ini belum ada kepastian mengenai air date season 4. Karena memang saya adalah salahsatu dari jutaan warga dunia yang menanti kembalinya Sherlock, maka saya kembali tumpahkan apa yang ada di dalam kepala saya disini, dan karena hanya 3 episode, I'll give a very quick and short review per episode as following below. Spoiler alert!

Jan 25, 2014

The World's End Review

"Face it, we are the human race and we don't like being told what to do!"
Duet Edgar Wright dan Simon Pegg plus co-star favorit mereka, Nick Frost, memang sudah dua kali terbukti tidak mengecewakan. Tahun 2004 kita pernah dibawa bertahan hidup dari serangan zombie lewat horror comedy Shaun of the Dead. Kemudian di tahun 2007 kita dibawa menyelidiki kasus pembunuhan lewat action comedy Hot Fuzz. Lalu di tahun 2013, mereka kembali lagi dalam film science fiction comedy yang diberi judul The World's End. Uniknya, ketiga film tersebut saling berkaitan. Pengaitnya bukanlah cerita atau karakter seperti kebanyakan film yang dibuat trilogi, melainkan es krim Cornetto. Itulah sebabnya mengapa ketiga film tersebut disebut sebagai "Three Flavours Cornetto Trilogy". Masing-masing film menampilkan es krim Cornetto dengan rasa berbeda sebagai simbol dari tema filmnya. Strawberry-flavored di Shaun of the Dead untuk memberikan kesan bloody and gory, kemudian Blue Original Cornetto dalam Hot Fuzz sebagai wakil dari tema polisi dan Mint Chocolate Chip untuk The World's End untuk mewakili tema science fiction pada filmnya.

Jan 13, 2014

2013: Blast From the Past


2013 is officially over. Biasanya sih movie blogger memang punya rutinitas untuk review what's good and what's not in the past year. Yah meskipun saya tergolong masih amatiran dan kalo dibanding moviegoers lain, tontonan saya masih tergolong kategori nge-pop, saya sih tetap membuat list best movies in 2013. Bisa dibilang, tahun 2013 adalah tahun teraktif dimana saya benar-benar rajin banget berkunjung ke bioskop. Tahun 2013 juga tidak sepenuhnya saya habiskan di bioskop sih, masih ada tumpukan DVD dan list film di laptop yang belum disentuh. And hell, seberapa banyak waktu yang saya luangkan, tetap saja list film yang belum saya tonton masih banyak. Mungkin karena memang film-film yang belum saya tonton itu tergolong kategori film art dan harus setting particular mood supaya kalau nonton nanti gak berasa bosan. Dan tentu saja tahun 2013 adalah tahun teraktif saya menulis di blog ini. Mudahan sih masih bisa awet sampai tahun-tahun berikutnya, since a lot of big movies coming ahead.

Dec 31, 2013

This Is The End Review

"It means that we're actually nice to each other, we can get sucked up into Heaven, too. That's the deal"
Apa yang terjadi ketika selebriti-selebriti yang memang sering bekerja sama dalam suatu film dikumpulkan menjadi satu dan membuat film dimana mereka memerankan diri mereka sendiri? Itulah yang terjadi dalam film berjudul This is the End ini. Diangkat dari film pendek berjudul Jay and Seth versus the Apocalypse karya Jason Stone dan Evan Goldberg tahun 2007, film ini bertaburan cameo para bintang yang memang sering bekerja sama dalam beberapa film. Sebut saja nama Seth Rogen, Jay Baruchel, Jonah Hill, Danny McBride, Craig Robinson dan James Franco serta nama-nama lain seperti Michael Cera, Christopher Mintz-Plasse, Jason Segel, Paul Rudd, Emma Watson hingga Rihanna, semuanya masing-masing memerankan dirinya. Lewat deretan pemainnya saja sudah terbaca bahwa film ini mengusung genre komedi mengenai kiamat. Lalu bagaimana Seth Rogen dan Evan Goldberg mengangkat tema yang cukup serius, yakni kiamat, in comedic way?


Dec 29, 2013

Side Effects Review

 
"Depression is an inability to construct a future"
Pernah berpikir soal efek samping dari obat-obatan yang kamu konsumsi? Misalnya obat yang Anda konsumsi akan menyebabkan kantuk dan sebagainya. Atau bahkan sekedar meluangkan waktu untuk membaca efek samping tersebut? Jika tidak, mungkin film bisa membuat Anda sedikit lebih concern soal hal tersebut. Ya, setelah tahun 2011 Steven Soderbergh sukses membuat orang-orang percaya soal betapa cepatnya penyakit bisa menyebar bahkan hanya dengan sentuhan di Contagion, Soderbergh kembali ke thriller berlatar dunia medis, hanya saja fokusnya dipersempit menjadi soal masalah psikis dan efek samping dari obat anti depresan. Salahsatu film Soderbergh sebelum hiatus panjang ini bergenre psychological thriller dan seperti karya Soderbergh biasanya, film ini bertabur bintang seperti Jude Law, Rooney Mara, Catherine Zeta Jones dan Channing Tatum. 

Dec 26, 2013

The Hobbit: The Desolation of Smaug Review

"When did we allow evil to become stronger than us?"
Akhirnya salahsatu film yang paling ditunggu di tahun 2013 dirilis juga. Lanjutan petualangan paman si Frodo Baggins di LOTR, Bilbo Baggins kembali ke layar lebar. Setelah ending film pertamanya dibuat cliffhanger, yang merupakan strategi tepat karena memancing rasa penasaran penonton, Peter Jackson kembali membawa kita berpetualang ke Middle Earth yang seolah tiada habisnya dijelajahi. Materi The Hobbit yang sebenarnya jauh lebih ringan dan lebih singkat dibandingkan LOTR sendiri ini dipecah menjadi tiga semata demi memperpanjang umur Middle Earth di layar lebar sekaligus sumber uang MGM dan New Line Cinema, karena rencana awalnya novel The Hobbit hanya dibagi menjadi dua film. Namun rupanya Peter Jackson dan para petinggi lainnya merasa dua film bukanlah jumlah yang tepat untuk petualangan seepik ini, maka jadilah The Hobbit dibuat trilogi. Sebenarnya yang membuat saya percaya dengan The Hobbit ini adalah tentu saja nama Peter Jackson yang sudah berpengalaman menyutradarai film-film 'besar' yang masih memegang film ini, dan tentu saja pengaruh hipnotis trilogi LOTR yang masih saja menghantui saya.

Snowpiercer Review

"I belong to the front, you  belong to the tail. Keep in your place"
Tidak bisa dipungkiri, meskipun Korea Selatan hampir selalu identik dengan drama cengeng, tidak sedikit juga drama thriller asal Negeri Gingseng ini yang punya reputasi bagus. Saya pribadi masih memfavoritkan Oldboy sebagai pemuncak film asal Korea Selatan yang paling memikat. Yah, meskipun memang harus diakui bahwa saya bukan tipe penikmat film Asia dan sedikit selektif terhadap film Asia, tapi saya harus akui bahwa Korea Selatan saat ini bisa dibilang sebagai negara Asia yang paling aktif melemparkan filmnya ke pasar internasional. Kali ini saya membicarakan tentang film Snowpiercer, yang disutradarai Bong Joo-Ho. Seandainya Anda tidak familiar dengan namanya, mungkin akan familiar mendengar salahsatu filmnya, yakni The Host (bukan, bukan film Saoirse Ronan yang gaje itu) di tahun 2006, atau Mother di tahun 2009. Diangkat dari novel grafis asal Perancis yang berjudul "Le Transperceneige", film ini dibintangi oleh aktor berbagai ras asal Amerika, Korea Selatan dan Afro Amerika.  Ramainya nama-nama populer di poster jelas menjadi daya tarik tersendiri, meskipun film ini tergolong minim promosi dan di Indonesia sendiri ditayangkan di jaringan bioskop terbatas.