Showing posts with label Drama. Show all posts
Showing posts with label Drama. Show all posts

Feb 15, 2017

Hidden Figures Review



"Separate and equal are two different things. Just çause it's the way, doesn't make it right, understand?"
Diskriminasi terhadap kaum minoritas, terutama kaum kulit hitam, memang punya sejarah panjang di Amerika. Mulai dari perbudakan yang sudah dimulai sejak sebelum Perang Sipil, keberadaan mereka memang tidak pernah benar-benar setara dengan warga kulit putih. Hal ini pulalah yang tersirat dalam film yang ditajuk Hidden Figures ini. Diadaptasi dari buku berjudul sama karangan  Margot Lee Shetterly, film yang diangkat dari kisah nyata ini menceritakan soal “sosok tersembunyi” di balik kesuksesan NASA dalam misi-misi awal ke luar angkasa. Mengangkat isu rasial yang kala itu tengah mengemuka, Hidden Figures tidak hanya sukses merajai tangga box office domestik, tapi juga memperoleh tiga nominasi Oscar, yakni Best Pictures, Best Supporting Actress untuk Octavia Spencer dan Best Adapted Screenplay.

Feb 4, 2017

Hacksaw Ridge Review

"I don't know how I'm going to live with myself if I don't stay true to what I believe"
Seberapa jauh kita mampu memegang teguh prinsip yang didasarkan atas keimanan? Hacksaw Ridge secara dramatis menggambarkan sekelumit perjuangan tersebut. Film yang sekaligus merupakan ajang comeback bagi Mel Gibson setelah film terakhir yang disutradarainya adalah Apocalypto di tahun 2006, bahkan mendapat 10 menit standing ovation saat pertama tayang di Venice Film Festival. Sosok Mel Gibson memang penuh kontroversi, apalagi semenjak dirinya tertangkap mabuk sambil mengendarai mobil dan kemudian memaki-maki kaum Yahudi. Tapi sepertinya perilaku buruk Mel Gibson sudah dilupakan publik lewat pembuktiannya dalam menyutradarai Hacksaw Ridge. Terbukti film ini banyak memperoleh nominasi di ajang perfilman bergengsi dan masuk dalam daftar film terbaik tahun 2016 di berbagai versi. Film ini bahkan juga mendapat 6 nominasi Oscar, tiga diantaranya adalah Best Picture, Best Actor untuk Andrew Garfield, Best Director untuk Mel Gibson. Curhat sedikit, film ini sejatinya sudah dirilis sejak November 2016, tapi saya skip di bioskop karna saya pribadi bukan menggemar film perang. Perang fiksi masih bisa saya maklumi (macam Lord of The Rings atau Star Wars), tapi yang mendekati realita begini saya tak pernah bisa menyaksikan dengan nyaman. Tapi melewatkan film ini rasanya tidak mungkin karna publik banyak yang memfavoritkan film ini.

Jan 22, 2017

Patriots Day Review

"When the devil hits you like that, only one weapon you have to fight back with. It's love. That's the only thing he can't touch"
Peter Berg sepertinya sudah menemukan aktor favoritnya. Pasca bekerja sama dengan Mark Wahlberg dalam The Lone Survivor (2013), ia kembali mengajak Mark Wahlberg dalam dua filmnya yang dirilis tahun 2016, yakni Deepwater Horizon dan Patriots Day. Ada kesamaan pada tiga kolaborasi mereka, semuanya diangkat dari kisah non fiksi, meskipun tentu dramatisasi tak bisa dihindari. Mungkin ini sudah jadi satu kepiawaian Peter Berg yang akhirnya disadarinya, mengangkat kisah patriotisme kemudian menuangkannya dalam serentetan adegan film yang lebih bisa dinikmati ketimbang film fiksi aksinya terdahulu seperti Battleship yang kurang dapat respon positif dari publik. 

Jan 18, 2017

La La Land Review

"How are you gonna be a revolutionary if you're such a traditionalist?"
Genre musikal jelas bukan satu genre terdepan di era teknologi canggih full CGI saat ini. Musikal pernah jadi favorit puluhan tahun lalu, hingga kemudian terobosan demi terobosan membuat musikal tak pernah benar-benar kembali ke era jayanya dulu. Damien Chazelle, yang dua tahun lalu pernah sukses mengisahkan perjuangan drummer jazz lewat Whiplash, menyadari hal ini dan punya ide cukup gila untuk mewujudkan film musikal yang diinspirasi dari sederet film musikal klasik berjudul La La Land. Baru-baru ini La La Land sendiri di ajang Golden Globes 2017 yang lalu berhasil menyabet 7 piala Golden Globes dari 7 nominasi, rekor piala terbanyak untuk satu film dalam sejarah Golden Globes. Cukup mencengangkan karna ini hadir dari sebuah film musikal.

Jan 9, 2017

Arrival Review

"Memory is a strange thing"
Apabila kita mengetahui bagaimana masa depan kita, apa yang akan kita lakukan? Are we gonna do our best to avoid those bad things we already knew? or are we gonna still risk it all and live in the moment? Setidaknya itulah sekelumit pesan yang ingin dibagi oleh Dennis Villanueve dalam film terbarunya yang dilabeli Arrival ini. Sepanjang sejarah perfilman Hollywood, film yag berkaitan dengan alien rasanya sudah cukup banyak, macam Close Encounters of Third Kind, atau yang super-light macam Independence Day. Lantas apa hubungannya kalimat pertama saya di atas dengan alien? Arrival diceritakan dengan pendekatan yang berbeda, berpondasi sebagai sebuah science fiction namun lebur bersama dramanya yang penuh filosofi. Justru disini jadi satu hal menarik karna alih-alih berubah jadi film action cliche dengan ledakan disana sini, Arrival justru lebih personal dengan melibatkan kehidupan pribadi sang tokoh utama.

Jan 2, 2017

The Girl on the Train Review

"A teacher once told me I was the mistress of self reinvention. It's like having a secret and nobody but me knows I'm doing it. I want to start my life over again"
Film terbaru Emily Blunt yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Paula Hawkins ini sialnya harus masuk bioskop Indonesia sangat terlambat. Tayang worldwide bulan Oktober kemarin, nyatanya The Girl on the Train baru menyambangi bioskop Indonesia di akhir bulan Desember 2016. Film ini menjadi sangat menarik semenjak novelnya dibanding-bandingkan dengan Gone Girl karangan Gillian Flynn yang, sama-sama kita tahu, sangat sukses diterjemahkan ke layar lebar oleh David Fincher dua tahun lalu. Belum lagi novelnya sendiri bercokol di posisi puncak New York Times Fiction Best Seller of 2015 selama 13 minggu berturut-turut. Tentu saja Hollywood bergerak cepat dan mengangkat novelnya ke layar lebar, dengan Tate Taylor yang sebelumnya pernah menggarap The Help di tahun 2011. Dengan materi yang nyaris mirip, banyak yang berharap kalau versi film dari The Girl on the Train ini bisa sekuat Gone Girl.

Dec 31, 2016

Cek Toko Sebelah Review

"Ternyata kalau kita berharap banyak, harus siap kecewa banyak"
Ernest Prakasa mungkin bisa dibilang salahsatu stand up comedian yang sukses di Indonesia. Ernest yang merupakan keturunan Tionghoa acap kali menggunakan kehidupan etnisnya sebagai materi stand up komedinya. Contohnya saja ketika menggarap film perdananya tahun lalu, Ngenest, yang terinspirasi dari kehidupan pribadinya. Meskipun terdengar ambisius ketika posisi sutradara, penulis scenario sekaligus aktor dipegang langsung oleh Ernest, toh film perdananya ini menuai sambutan positif dari penonton. Kali ini ia rupanya ketagihan, karna di penghujung tahun 2016 ini, ia kembali meluncurkan film kedua yang diberi judul Cek Toko Sebelah dimana Ernest kembali mengisi tiga posisi kunci, dan masih membawa etnis Tionghoa ke dalam penuturan ceritanya.

Passengers Review

 
"You can't get so hung up on where you'd rather be, that you forget to make the most of where you are"
Jennifer Lawrence. Chris Pratt. Dalam satu film. Bersetting di luar angkasa. Mendengar empat kalimat tersebut rasanya mustahil untuk tidak excited dengan film terbaru karya Morten Tydlum ini. Tanpa perlu tahu banyak plotnya saja sudah terdengar menarik, apalagi kedua nama yang baru pertama kali dipasangkan dalam satu layar ini sedang naik daun di dunia perfilman Hollywood. Promosinya sendiri cukup menarik, bahkan digadang sebagai “Titanic in outer space”. Memang film bertema luar angkasa sedang naik daun beberapa tahun terakhir. Maka, tentu saja, jadilah Passengers menjadi salahsatu film yang ditunggu di penghujung tahun 2016 ini.

May 28, 2016

Captain America: Civil War Review


"Compromise where you can. Where you can't, don't. Even if everyone is telling you that something wrong is something right"

Marvel tak pelak sudah membangun kerajaan besar lewat trend superhero yang dibangkitkan sejak hampir sepuluh tahun lalu. Semenjak kehadiran Iron Man di layar perak tahun 2007, Marvel pelan-pelan membangun pondasinya menuju Avengers yang puncaknya direncanakan rilis tahun 2019. Tak bisa dipungkiri, Marvel memiliki perencanaan yang matang sejak awal. Lihat saja secara rutin Marvel menyelipkan post credit scene hampir di setiap filmnya sebagai petunjuk yang secara tidak langsung terkoneksi pada Avengers. Bukan hanya itu, bahkan Marvel mampu membuat karakter superhero yang mulanya tidak dikenal macam Guardian of the Galaxy menjadi satu sensasi baru. Tahun ini, Marvel sudah mengisi jadwalnya dengan Captain America: Civil War yang merupakan film stand-alone ketiga dari sang Captain sekaligus jembatan menuju film pamungkas Avengers nantinya. 


Apr 16, 2016

The Jungle Book Review


"No matter where you go or what they may call you, you will always be my son"

Dongeng klasik memang tidak akan pernah lekang dimakan waktu, nyaris setiap dongeng klasik punya umur yang abadi dan diceritakan terus menerus secara turun temurun dari zaman ke zaman. Salahsatu caranya agar tetap abadi adalah tentu saja terus mengadaptasi kisah tersebut dengan cara yang berbeda. Tahun lalu Disney sudah membuktikannya lewat retelling kisah populer Cinderella versi live action yang meskipun sebagian orang sudah paham perihal kisahnya, namun tetap terasa menawan, dan tahun ini Disney kembali memberikan suguhan live action lewat kisah kenamaan karya Rudyard Kipling, The Jungle Book. Karna animasinya sendiri sudah sangat populer pada masanya dirilis di tahun 1967, tentu saja penampilan baru live action ini juga punya daya tarik tersendiri, apalagi disutradarai oleh Jon Favreau yang sudah memperkenalkan kita dengan Iron Man.

Apr 13, 2016

10 Cloverfield Lane Review


"Crazy is building your ark after the flood has already come"

Ketika Cloverfield dirilis delapan tahun lalu, tidak ada yang menyangka kalau kisahnya berkembang jauh beberapa tahun kemudian. Gagasan sekuel pernah ada tapi tenggelam begitu saja seiring kesibukan dari sang produser. Dari judulnya saja sudah jelas, yang meskipun dibantah oleh sang produser, J.J Abrams yang terkenal selalu ketat dalam merahasiakan proyeknya, jelas film ini punya kaitan erat dengan Cloverfield meskipun hanya dari universe-nya saja. Seperti biasa, hampir setiap proyek garapan J.J Abrams selalu minim informasi. Begitu pula 10 Cloverfield Lane yang bahkan hingga trailer-nya dirilis juga masi banyak menimbulkan pertanyaan. Meskipun ada di bawah nama besar J.J Abrams dan Bad Robot, film ini digawangi oleh sutradara baru, Dan Trachtenberg. Meskipun ada embel-embel Cloverfield, nyatanya memang kisah ini tidak pernah terhubung secara langsung oleh serangan monster alien di New York dalam Cloverfield.


Apr 10, 2016

Batman v Superman: Dawn of Justice Review

"Devils don't come from hell beneath us. They come from the sky"
Pertarungan akbar mempertemukan dua superhero raksasa legendaris dari DC Comics akhirnya tiba juga. Semenjak diumumkan bahwa kelanjutan dari Man of Steel yang dirilis tiga tahun silam akan mempertemukan si manusia besi dan manusia kelelawar, DC seolah menjatuhkan bom atom, semua fanboy langsung jumpalitan, bahkan penonton awam pun juga sama excited-nya menanti terealisasinya proyek ini. Masih segar dalam ingatan kalau gagasan mempertemukan Superman dan Batman sudah ada sejak lama, bahkan pernah muncul sekelebat poster film Batman vs Superman dalam film I Am Legend (yang kebetulan rilisnya cukup berdekatan dengan Superman Returns), namun gagasan itu baru terealisasi setelah peluncuran Man of Steel dan baru kita bisa saksikan tahun ini lewat tangan Zack Snyder. Penantian yang panjang, jadi tidak heran kalau segala macam ekspektasi membumbung tinggi untuk film ini yang jelas sebagai penentu nasib Justice League ke depannya.

Mar 6, 2016

Talak 3 Review

"Menunggu sesuatu yang tidak pasti itu memang menyakitkan.."

Lagi-lagi film Indonesia. Bulan februari kemarin memang banyak film Indonesia yang bagus dirilis. Untungnya setelah masih kebagian A Copy of My Mind (yang tayang cuma seminggu di bioskop di kota saya), seminggu kemudian saya menguatkan tekad nonton Talak 3 dan terpaksa mengesampingkan Zootopia. Kalau dipikir-pikir, saya juga bingung kenapa saya bisa nekad nonton film ini, karna sebenarnya saya juga kurang tertarik melihat poster (apalagi trailernya). Tapi respon dari para movie blogger yang luar biasa lah yang membuat saya tertarik menyaksikan film ini. Ditambah ada dua aktor Indonesia favorit saya menghias daftar pemerannya, yakni Vino G. Bastian dan Reza Rahadian, akhirnya Talak 3 berhasil membawa saya duduk manis di kursi bioskop, dimana hal ini adalah hal yang amat jarang terjadi, bahkan oleh film-film Raditya Dika sekalipun, yang meskipun hampir selalu jadi juara box office Indonesia, tapi gak pernah berhasil menarik minat saya sedikitpun.


Feb 16, 2016

A Copy of My Mind Review

"Oh kalo mau nyari yang bagus ya nyari yang asli lah, bajakan masa lu protes?"
Rasanya sudah lama sekali semenjak terkahir kali saya nonton film Indonesia di bioskop, tapi film ini rasanya adalah sebuah pengecualian. Sebelum tayang di bioskop secara luas februari tahun ini, A Copy of My Mind yang sejatinya adalah film rilisan tahun 2015, sudah mondar-mandir di berbagai festival internasional semacam Toronto International Film Festival dan Venice Film Festival tahun 2015. Bahkan pada Festival Film Indonesia tahun lalu, film ini memenangkan 3 Piala Citra dari 7 nominasi, yakni Pemeran Utama Wanita Terbaik untuk Tara Basro, Sutradara Terbaik untuk Joko Anwar, dan Penata Suara Terbaik. Semua predikat ini pastinya ikut menaikkan prestise dari A Copy of My Mind. Semenjak Joko Anwar terlibat sebagai penulis dalam film Arisan! yang legit itu, I'm completely adore his works. Jadi ketika mendengar Joko Anwar kembali duduk sebagai sutradara dari film A Copy of My Mind, I'm super excited. Apalagi dengan embel-embel yang sudah tersebut di atas, rasanya melewatkan film ini adalah sesuatu yang mustahil.

Feb 6, 2016

Room Review

"There are so many things out here. And sometimes it's scary. But that's ok. Because it's still just you and me..."
Ruang? Kamar? Kalau saya lebih menafsirkan ke arah ruang ketimbang kamar setelah menyaksikan filmnya. Kisah film ini diangkat dari novel berjudul sama karya Emma Donoghue yang sekaligus ditugaskan sebagai penulis skenario film ini. Sutradaranya adalah Lenny Abrahamson yang di tahun 2014 juga meyutradarai Frank. Bukan nama-nama yang familiar memang, karna memang film ini tergolong film indie, bahkan didistribusikan oleh A24 di US, yang memang langganan memproduksi film-film low budget. Secara mengejutkan film ini memperoleh 4 nominasi di ajang Oscar tahun ini, yakni Best Picture, Best Director, Best Actress untuk Brie Larson dan Best Adapted Screenplay. Khusus Brie Larson yang beberapa tahun terakhir mulai mencuri perhatian, namanya menjadi salahsatu alasan saya menyaksikan film ini. 

The Revenant Review

"Revenge is in God's hand, not mine"
The Revenant, kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya adalah seseorang yang bangkit dari kematian. Judulnya sebenarnya sudah menyimpulkan isi ceritanya. Bukan, ini bukan film horor atau film zombie, tapi lebih ke survival. Film ini punya dua keuntungan, yaitu dari nama sutradara dan pemeran utamanya. Sutradaranya adalah Alejandro González Iñárritu, yang tahun lalu menang besar di ajang Oscar lewat Birdman, sementara aktor utamanya adalah Leonardo DiCaprio yang meskipun hampir selalu tampil bagus, sialnya dia belum pernah sekalipun menggenggam piala Oscar. Jadi sebenarnya film ini merupakan pengharapan bagi setiap umat penganut aliran fans DiCaprio, dan setiap doa yang dipanjatkan adalah semoga Leo bisa menang Oscar tahun ini. Nope, saya bukan hater-nya Leo, saya juga nge-fans dengan beliau sejak penampilannya sebagai Arnie Grape di What's Eating Gilbert Grape?, tapi semua pasti akan tiba pada waktunya kok. Martin Scorsese juga selalu bikin film bagus sejak Taxi Driver di tahun 1976, bolak balik dinominasikan Oscar kategori Best Director delapan kali hingga saat ini, tapi baru sekali menang di tahun 2006 lewat The Departed. See

Feb 2, 2016

The Martian Review



"Every time something goes wrong, the world forgets why we fly"
Yes, film ini sudah saya tonton sejak september 2015, tapi baru sempat direview sekarang karna ke(sok)sibukan saya dan kebetulan juga beberapa minggu lalu baru nonton lagi, jadi agak fresh. The Martian punya poster yang cukup percaya diri, cukup dengan pasang wajah Matt Damon dan tagline "Bring Him Home", film ini sudah berhasil mencuri perhatian. Tapi tetap saya gak punya keinginan cari tahu film ini tentang apa. Yang pasti sih setting-nya outer space, karna Matt Damon pakai kostum astronot di posternya. Tagline-nya malah mengingatkan sama judul salahsatu lagu di drama Broadway populer, Les Miserables. Saya bukan pemuja Matt Damon, meskipun harus diakui Matt Damon punya kualitas akting yang tidak bisa disepelekan, tapi film ini langsung masuk watch list saya kemarin. Kenapa? Karna ada nama Ridley Scott di belakangnya. Ridley Scott sudah jadi dedengkot di dunia perfilman, bahkan banyak sutradara muda yang ter-influenced dengan penyutradaraan beliau. Seri Alien, Blade Runner, Gladiator hingga yang paling akhir, Prometheus, sudah jadi buktinya. Jadi, sebenarnya cuma dua faktor yang menarik minat saya, Ridley Scott dan Matt Damon. Ceritanya? Saya sedikit pun gak pernah cari tahu. Bahkan nonton trailer-nya pun tidak.

Jan 17, 2016

The Big Short Review


"Wall Street loves to use confusing terms, to make you think only they can do what they do. Or even better, for you just to leave them the fuck alone"

Kalau dibaca dari judulnya, mungkin kita tidak punya gambaran apa-apa tentang isi filmnya. The Big Short? What the hell is this movie about? Tapi kalau sudah membaca deretan cast-nya, siapa yang yang tidak tertarik? (We all women like them, at least). Nama Christian Bale, Steve Carell, Ryan Gosling dan Brad Pitt terpajang manis di posternya. Keempat nama ini tentu menarik perhatian, dan mampu membuat calon penonton (termasuk saya) cari tahu soal isi filmnya.  Dan ternyata ini tentang krisis perekonomian global di Amerika Serikat pada tahun 2008 silam. What? Another economics things? Saya gak pernah paham soal perekonomian terutama yang terkait soal saham. Waktu nonton The Wolf of Wall Street, saya cuma menangkap kehidapan pribadi Jordan Belfort, yang memang diceritakan secara komedi, dan membuat Wolf of Wall Street lebih mudah dipahami oleh dummies seperti saya. About the broker things? No idea at all. Jadi begitu tahu The Big Short ini bakal memuat konten yang kurang lebih sama, rasanya banyak yang perlu saya pertaruhkan, apalagi film ini bukan dari kisah yang saya suka.

Jan 3, 2016

Creed Review

 
"Time takes everybody out. Time is undefeated"
Sebelum memulai, ada satu yang perlu ditekankan, I'm not a Rocky fan. Alih-alih fan, nonton filmnya barang sekalipun juga belum pernah. And I'm not a Sly fan. Sylvester Stallone mungkin aktor bagus pada masanya, but clearly not my favorite one. Jadi setelah enam film, dan hanya film pertamanya yang menang Oscar kategori Best Picture, kenapa masih diteruskan kelanjutannya? Seolah kisah Rocky tidak pernah berhenti sampai karakter itu sendiri mati.  Ya, mungkin Rocky jadi salahsatu America's favorite hero, itulah sebabnya, dan film pertamanya merupakan film yang sarat akan harapan. Lihat saja, patung Rocky bahkan dipajang di sekitar Museum Philadelphia. Lantas kenapa saya yang bukan fans lalu nekad nonton Creed? Well, faktanya film spin off dari Rocky ini dapat sambutan kritik yang tidak bisa diremehkan, bahkan nama Stallone masuk dalam nominasi Golden Globe kategori Best Supporting Actor. Dan, film ini sudah tidak lagi fokus pada sang legenda Rocky Balboa, tapi lebih ke sang karakter baru, Adonis Creed.

Nov 26, 2015

Spectre Review

"You're a kite dancing in a hurricane, Mr. Bond"
Nama James Bond sudah serupa brand yang akan selalu menarik perhatian. Bahkan desas-desus pemerannya selalu jadi buah bibir. Isu bahwa Spectre adalah film terakhir dimana Daniel Craig berperan sebagai Bond mulai sering terdengar, meskipun hingga saat ini belum ada kepastian mengenai hal itu. Tentu saja publik sudah mulai menerka siapa yang layak menggantikan Craig. Siapapun kandidatnya sebaiknya disimpan dulu, karna jelas Spectre akan menjadi pusat perhatian kalau memang ini aksi terakhir Craig sebagai Bond. Kali ini Spectre masih disutradarai oleh Sam Mendes, dengan Lea Seydoux terpilih sebagai Bond Girl dan Christoph Waltz sebagai karakter antagonis. Tentu saja kita semua mengharapkan aksi sang agen mata-mata MI6 asal Inggris ini akan jauh lebih besar dari Skyfall yang sukses dari sisi kritik dan finansial.