Showing posts with label Adventure. Show all posts
Showing posts with label Adventure. Show all posts

Dec 31, 2016

Assassin's Creed Review


"We work from the dark to serve the light. We are assassins"
Menilik beberapa tahun ke belakang, film yang diangkat dari video games rasanya sedikit yang mendulang sukses secara kritik. Satu-satunya film yang kisahnya lahir dari video games yang masih sukses secara finansial hingga sekarang mungkin hanya Resident Evil yang entah ceritanya sudah melebar sampai kemana-mana. Terakhir di tahun ini ada Warcraft yang menurut saya pribadi juga tidak sepenuhnya oke, walaupun kalau dibilang jelek pun juga tidak sampai serendah itu. Warcraft sendiri tidak begitu mengkilap di mata kritikus. Assassin's Creed setidaknya terlihat sebagai satu case yang berbeda, karena ia punya jajaran top cast yang mumpuni, dengan sutradara yang tahun lalu sukses menggawangi Macbeth, Justin Kurzel. Bahkan ia juga memboyong Michael Fassbender dan Marion Cotillard yang sebelumnya juga satu layar dalam Macbeth. Berbekal nama besar aktor-aktornya, plus kebesaran dari game-nya sendiri yang jelas punya fanbase besar, di atas kertas harusnya Assassin's Creed bisa meredam ocehan para kritikus sekaligus mendulang kesuksesan dari segi pendapatan.

Passengers Review

 
"You can't get so hung up on where you'd rather be, that you forget to make the most of where you are"
Jennifer Lawrence. Chris Pratt. Dalam satu film. Bersetting di luar angkasa. Mendengar empat kalimat tersebut rasanya mustahil untuk tidak excited dengan film terbaru karya Morten Tydlum ini. Tanpa perlu tahu banyak plotnya saja sudah terdengar menarik, apalagi kedua nama yang baru pertama kali dipasangkan dalam satu layar ini sedang naik daun di dunia perfilman Hollywood. Promosinya sendiri cukup menarik, bahkan digadang sebagai “Titanic in outer space”. Memang film bertema luar angkasa sedang naik daun beberapa tahun terakhir. Maka, tentu saja, jadilah Passengers menjadi salahsatu film yang ditunggu di penghujung tahun 2016 ini.

Rogue One: A Star Wars Story Review



"We have hope. Rebellions are built on hope"

Saga Star Wars memang punya potensi besar untuk diperluas kisahnya. Bukan hanya karna universe-nya yang memang begitu luas sehingga kemungkinan mengekspansi kisahnya juga sangat besar, tapi juga kemungkinan menjaring penonton jadi sangat besar karna tentu saja fans lama rasanya sulit melewatkan bahkan satu kisah sekalipun. Pasca tahun lalu Star Wars Episode VII: The Force Awaken sukses membawa aura nostalgia yang kental hadir lewat main storyline-nya (melanjutkan kisah terdahulu), tahun ini giliran Rogue One yang merupakan pembuka dari kisah antologi Star Wars yang nantinya akan dirilis Disney dengan konsep trilogi. Rogue One sendiri bisa dikatakan sebagai spin off dari kisah Star Wars, dimana kejadian dalam Rogue One ini berlangsung setelah Episode III: Revenge of The Sith dan sebelum Episode IV: A New Hope.

Apr 18, 2016

The Huntsman: Winter's War Review


"I thought I made you strong, but you're as pathetic as you ever were"

Pada dasarnya tidak ada yang pernah mengharapkan kelanjutan dari kisah Snow White and The Huntsman yang dirilis tahun 2012 silam, mengingat kritikan pedas cukup banyak ditujukan meskipun  raihan dollarnya cukup menggiurkan. Walaupun sebenarnya rencana sekuel sudah ada beberapa waktu setelah film pertamanya dirilis, rencana tersebut terpaksa masuk peti es karna skandal menghebohkan yang membuat nasib sekuelnya sempat tertunda. Tak ayal ketika diumumkan kalau akan hadir sekuelnya tanpa melibatkan Kristen Stewart lagi, hal ini cukup membingungkan walaupun akhirnya dengan absennya sang Snow White, toh jajaran cast-nya semakin mentereng dengan tambahan nama Emily Blunt dan Jessica Chastain sementara Charlize Theron dan Chris Hemsworth juga kembali melanjutkan perannya dari film terdahulu.

Apr 16, 2016

The Jungle Book Review


"No matter where you go or what they may call you, you will always be my son"

Dongeng klasik memang tidak akan pernah lekang dimakan waktu, nyaris setiap dongeng klasik punya umur yang abadi dan diceritakan terus menerus secara turun temurun dari zaman ke zaman. Salahsatu caranya agar tetap abadi adalah tentu saja terus mengadaptasi kisah tersebut dengan cara yang berbeda. Tahun lalu Disney sudah membuktikannya lewat retelling kisah populer Cinderella versi live action yang meskipun sebagian orang sudah paham perihal kisahnya, namun tetap terasa menawan, dan tahun ini Disney kembali memberikan suguhan live action lewat kisah kenamaan karya Rudyard Kipling, The Jungle Book. Karna animasinya sendiri sudah sangat populer pada masanya dirilis di tahun 1967, tentu saja penampilan baru live action ini juga punya daya tarik tersendiri, apalagi disutradarai oleh Jon Favreau yang sudah memperkenalkan kita dengan Iron Man.

Apr 10, 2016

The Divergent Series: Allegiant Review

"You want change without sacrifice, you want peace without struggle. The world doesn't work that way"
Sebenarnya tidak ada yang berharap kalau novel pamungkas dari seri Divergent ini akan dipecah jadi dua. Pasalnya sejak awal, seri ini melangkah terseok-seok untuk menggaet penonton non-reader. Materi dari novelnya sendiri tidak relevan jika dibagi dua, yang jelas merupakan sebuah usaha untuk memperpanjang kisah ini. Dari keseluruhan film yang mengalami pemindahan materi dari novel ke film, mungkin hanya Harry Potter yang materinya paling layak dibagi menjadi dua film, sementara yang lainnya tentu saja hanya sebuah usaha mengeruk keuntungan, termasuk juga Allegiant ini. Masalahnya apakah penonton masih benar-benar punya minat untuk menyaksikan keduanya? Divergent tidak bisa dikatakan luar biasa, meskipun tidak sepenuhnya buruk juga. Insurgent meskipun penuh aksi, nyatanya juga tidak mampu menyamai prestasi Divergent. Jelas butuh usaha ekstra keras bagi seri pamungkas bagian pertama yang diberi judul Allegiant ini untuk mendapat kepercayaan dari penontonnya. Meskipun masih digawangi oleh Roberts Schwentke dan dipastikan seluruh cast lama kembali, tidak membuat Allegiant meledak di pasaran.

Feb 6, 2016

The Revenant Review

"Revenge is in God's hand, not mine"
The Revenant, kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya adalah seseorang yang bangkit dari kematian. Judulnya sebenarnya sudah menyimpulkan isi ceritanya. Bukan, ini bukan film horor atau film zombie, tapi lebih ke survival. Film ini punya dua keuntungan, yaitu dari nama sutradara dan pemeran utamanya. Sutradaranya adalah Alejandro González Iñárritu, yang tahun lalu menang besar di ajang Oscar lewat Birdman, sementara aktor utamanya adalah Leonardo DiCaprio yang meskipun hampir selalu tampil bagus, sialnya dia belum pernah sekalipun menggenggam piala Oscar. Jadi sebenarnya film ini merupakan pengharapan bagi setiap umat penganut aliran fans DiCaprio, dan setiap doa yang dipanjatkan adalah semoga Leo bisa menang Oscar tahun ini. Nope, saya bukan hater-nya Leo, saya juga nge-fans dengan beliau sejak penampilannya sebagai Arnie Grape di What's Eating Gilbert Grape?, tapi semua pasti akan tiba pada waktunya kok. Martin Scorsese juga selalu bikin film bagus sejak Taxi Driver di tahun 1976, bolak balik dinominasikan Oscar kategori Best Director delapan kali hingga saat ini, tapi baru sekali menang di tahun 2006 lewat The Departed. See

Feb 2, 2016

The Martian Review



"Every time something goes wrong, the world forgets why we fly"
Yes, film ini sudah saya tonton sejak september 2015, tapi baru sempat direview sekarang karna ke(sok)sibukan saya dan kebetulan juga beberapa minggu lalu baru nonton lagi, jadi agak fresh. The Martian punya poster yang cukup percaya diri, cukup dengan pasang wajah Matt Damon dan tagline "Bring Him Home", film ini sudah berhasil mencuri perhatian. Tapi tetap saya gak punya keinginan cari tahu film ini tentang apa. Yang pasti sih setting-nya outer space, karna Matt Damon pakai kostum astronot di posternya. Tagline-nya malah mengingatkan sama judul salahsatu lagu di drama Broadway populer, Les Miserables. Saya bukan pemuja Matt Damon, meskipun harus diakui Matt Damon punya kualitas akting yang tidak bisa disepelekan, tapi film ini langsung masuk watch list saya kemarin. Kenapa? Karna ada nama Ridley Scott di belakangnya. Ridley Scott sudah jadi dedengkot di dunia perfilman, bahkan banyak sutradara muda yang ter-influenced dengan penyutradaraan beliau. Seri Alien, Blade Runner, Gladiator hingga yang paling akhir, Prometheus, sudah jadi buktinya. Jadi, sebenarnya cuma dua faktor yang menarik minat saya, Ridley Scott dan Matt Damon. Ceritanya? Saya sedikit pun gak pernah cari tahu. Bahkan nonton trailer-nya pun tidak.

Dec 22, 2015

Star Wars Episode VII: The Force Awakens Review


"Show me again the power of the darkness, and I'll let nothing stand in our way. Show me.. and I will finished what you started"

Semenjak diumumkan bahwa kisah Star Wars akan kembali dilanjutkan, banyak yang sangsi dengan keputusan ini. Kita tahu bahwa kisah ini sudah ditutup dengan sangat apik lebih dari 30 tahun yang lalu. Meskipun George Lucas tidak berhenti sampai disitu dan memilih melanjutkan kisahnya lewat trilogi prekuel soal latar belakang Darth Vader lebih dari 15 tahun yang lalu, keseluruhan kisah ini sudah dianggap tuntas dan rasanya tidak perlu dilanjutkan lagi. Tapi rupanya pihak Disney yang sudah membeli LucasFilm tidak sependapat dan menganggap masih ada yang bisa digali dari kisah ini. Maka diumumkankanlah bahwa Star Wars Episode VII: The Force Awakens  akan menjadi judul baru dari kisah ini yang dirilis di penghujung tahun 2015. Komentar miring banyak diluncurkan, meskipun banyak pula yang menaruh harapan, apalagi setelah J.J Abrams resmi ditunjuk sebagai sutradaranya. J.J Abrams bukan nama sembarangan dalam dunia perfilman,khusunya jalur sci-fi, karna ia adalah orang yang sama yang berhasil me-reboot kisah epik angkasa lainnya, Star Trek. 

Nov 26, 2015

The Hunger Games: Mockingjay Part 2

"Our lives were never ours, they belong to Snow and our deaths do too. But if you kill him, Katniss, all those deaths, they mean something"
Akhirnya, sampailah kita di penghujung seri Hunger Games. Beruntungnya seri ini punya Jennifer Lawrence, yang pada saat seri ini berlangsung berhasil memenangkan piala Oscar, dan meningkatkan prestise film yang diangkat dari novel young adult bersettingkan di negara fiksi bernama Panem karya Suzanne Collins. Peran yang sebenarnya bisa jatuh ke tangan aktris lain, namun akhirnya malah Jennifer Lawrence yang memerankan sang heroine utama, Katniss Everdeen, dan membuat namanya semakin luas dikenal publik. Film yang dulunya saya tonton cuma karna ada Josh Hutcherson, dan ternyata film ini alur cerita yang menarik. Penggemarnya baik pembaca novel maupun bukan pasti sudah menanti film pamungkas seri ini, karna sudah kita semua ketahui bahwa seri ini sudah berkembang menjadi saga besar yang selalu dinanti kehadirannya.

The Hunger Games: Mockingjay Part 1


"You can torture us, bomb us, or burn our district to the ground. But do you see that? Fire is catching. If we burn, you burn with us!"

Karna tahun 2015 menjadi tahun terakhir Hunger Games dirilis, dan sebelumnya tulisan soal Part 1 belum ada, jadi rasanya ada yang kurang kalau saya menulis soal Part 2 tanpa ada Part 1. Dan tentu saja, Hunger Games sudah jelas menjadi fenomena baru yang luar biasa. Sejak seri pertamanya, film ini sudah menyita perhatian. Tahun 2014 film ketiganya yang diangkat dari novel seri ketiga Hunger Games, Mockingjay, dirilis serta dipecah menjadi 2 film, seperti layaknya film-film yang diangkat dari novel seperti Harry Potter dan Twilight,  yang seri terakhirnya dipecah menjadi 2 bagian. Bicara soal Hunger Games memang tidak bisa lepas dari Harry Potter dan Twiight yang sudah lebih dulu sukses di layar lebar, Tentu saja masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Yang jelas kesamaanya adalah sukses di layar lebar yang berimbas pada seri novel terakhirnya dipecah menjadi dua part di layar lebar demi profit. Tujuannya tentu saja memperpanjang umur seri ini, dan semakin panjang umur sebuah seri, semakin besar income yang diperoleh.


Aug 18, 2014

X-Men: Days of Future Past Review

  
"The past: a new and uncertain world. A world of endless possibilities and infinite outcomes. Countless choices define our fate: each choice, each moment, a moment in the ripple of time. Enough ripple, and you change the tide... for the future is never truly set" 
Semenjak filmnya pertama kali dirilis di tahun 2000, X-Men sudah menjadi film superhero favorit saya. Ya, segerombolan mutan dengan kekuatan luar biasa ini merupakan pioner dari film superhero modern di era millenium. Setelah sebuah trilogy dan dua film spin-off Wolverine, tahun 2011 menjadi awal kembalinya mutan-mutan ini dengan setting berbeda lewat X-Men: First Class dimana ini juga merupakan reboot dari saga X-Men. Menuai sambutan positif, membuat saga X-Men hidup kembali dan membuat Bryan Singer kembali menduduki kursi sutradara. Tidak tanggung-tanggung, film yang mengadaptasi buku komik The Uncanny X-Men ini punya sederet ensemble cast yang menarik. Kalau kita sudah mengenal James McAvoy, Michael Fassbender dan Jennifer Lawrence sebagai Professor Xavier, Erik Lehnsherr/ Magneto dan Raven/ Mystique di First Class, film ini juga membawa sederet bintang dari trilogi sebelumnya seperti Halle Berry, Ellen Page hingga Anna Paquin serta tentu saja Hugh Jackman sang Wolverine.

Aug 17, 2014

The Amazing Spider-Man 2 Review

"Everyone has a part of themselves they hide. Even from the people they love"
Setelah di tahun 2012 Sony Pictures sukses me-reboot kisah superhero berkuatan laba-laba, tahun ini Sony kembali melanjutkan kisah pahlawan berkostum merah biru tersebut. Dengan amunisi yang sama dimana Marc Webb memegang kursi sutradara, sementara Andrew Garfield dan Emma Stone juga kembali memerankan Peter Parker dan Gwen Stacy. Tidak hanya sampai disitu, film ini kedatangan Dane DeHaan, Jamie Foxx, hingga Paul Giamatti dan Felicity Jones. Bahkan film ini juga berhasil menggaet Shailene Woodley sebagai Mary Jane Watson sebelum akhirnya diputuskan untuk menghilangkan semua adegan yang melibatkan Mary Jane dengan alasan karakter Mary Jane akan disimpan untuk film berikutnya meskipun kemungkinan besar Woodley tidak akan kembali memerankan Mary Jane karna jadwalnya yang padat. Semua bintang-bintang ini seharusnya sudah cukup membuat orang-orang rela mengantri untuk film ini selain nama besar Spider-Man yang memang luar biasa.

Divergent Review

"The future belongs to those who know where they belong"
Summit sepertinya mulai ketagihan mengadaptasi novel-novel yang punya potensi box office di layar lebar. Buktinya, satu lagi adaptasi novel young adult setelah sebelumnya The Hunger Games berhasil menuai kesuksesan baik dari segi kritik maupun finansial. Kali ini giliran novel karangan Veronica Roth berjudul Divergent yang kebagian jatah pindah ke layar lebar. Tidak main-main, film ini punya nama besar seperti artis muda berbakat Shailene Woodley hingga aktris peraih Oscar Kate Winslet. Novelnya sendiri punya cerita yang walaupun tidak sama persis tapi sedikit banyak memiliki kesamaan dengan The Hunger Games dan punya fan base yang cukup besar di seluruh dunia.

Quick Review: Jack Ryan: Shadow Recruit and Robocop


Sama-sama proyek reboot dan sama-sama rilis di awal tahun 2014, Jack Ryan: Shadow Recruit dan Robocop punya harapan yang cukup tinggi agar bisa menghidupkan kembali karakter punya tingkat popularitas yang cukup tinggi di era 90-an. 


Jan 31, 2014

The Secret Life of Walter Mitty Review


"To see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, draw closer, to find each other, and to feel. That is the purpose of life"

Diangkat dari short story berjudul sama karangan James Thurber di tahun 1939, ini adalah kali keduanya kisah si Walter Mitty diangkat ke layar lebar. Pertama kali diangkat ke sebuah film tahun 1947, kali ini Ben Stiller yang mencoba peruntungan dengan menyutradarai, memproduseri dan membintangi sendiri film ini. Pengembangan proyek remake film ini sebenarnya sudah mengemuka sejak tahun 1994, namun pergantian sutradara, penulis naskah hingga pemeran utamanya membuat proyek ini tak kunjung usai. Akhirnya setelah panjangnya proses, terpilihlah Ben Stiller sebagai sutradara sekaligus bintang utamanya, sementara naskahnya sendiri dikerjakan oleh Steve Conrad, orang yang sama yang pernah menulis naskah The Pursuit of Happyness. Nama Ben Stiller mungkin tidak begitu populer sebagai sutradara, padahal sebelumnya ia pernah menyutradarai beberapa film, diantaranya Reality Bites, The Cable Guy, Zoolander hingga Tropic Thunder.

Dec 26, 2013

The Hobbit: The Desolation of Smaug Review

"When did we allow evil to become stronger than us?"
Akhirnya salahsatu film yang paling ditunggu di tahun 2013 dirilis juga. Lanjutan petualangan paman si Frodo Baggins di LOTR, Bilbo Baggins kembali ke layar lebar. Setelah ending film pertamanya dibuat cliffhanger, yang merupakan strategi tepat karena memancing rasa penasaran penonton, Peter Jackson kembali membawa kita berpetualang ke Middle Earth yang seolah tiada habisnya dijelajahi. Materi The Hobbit yang sebenarnya jauh lebih ringan dan lebih singkat dibandingkan LOTR sendiri ini dipecah menjadi tiga semata demi memperpanjang umur Middle Earth di layar lebar sekaligus sumber uang MGM dan New Line Cinema, karena rencana awalnya novel The Hobbit hanya dibagi menjadi dua film. Namun rupanya Peter Jackson dan para petinggi lainnya merasa dua film bukanlah jumlah yang tepat untuk petualangan seepik ini, maka jadilah The Hobbit dibuat trilogi. Sebenarnya yang membuat saya percaya dengan The Hobbit ini adalah tentu saja nama Peter Jackson yang sudah berpengalaman menyutradarai film-film 'besar' yang masih memegang film ini, dan tentu saja pengaruh hipnotis trilogi LOTR yang masih saja menghantui saya.

Dec 15, 2013

Frozen Review


"Some people are worth melting for"

Disney sudah sejak lama dikenal sebagai studio yang hampir selalu menghasilkan  film animasi yang berkualitas. Era awal 90-an merupakan masa kejayaan Disney. Mulai dari Beauty and the Beast, The Lion King, Tarzan, Aladdin hingga Mulan, semuanya diakui khalayak tidak hanya memiliki kualitas animasi yang bagus, namun juga cerita yang menghibur, hingga akhirnya tergusur oleh era animasi 3D yang dipelopori oleh Pixar dengan Toy Story-nya. Belum lagi gempuran dari studio lain seperti Dreamworks yang juga mulai memproduksi film animasi. Ditengah himpitan persaingan yang tinggi, Disney akhirnya bergabung dengan Pixar dan bekerja sama memproduksi film animasi. Namun Disney tetap memproduksi film animasinya sendiri meskipun beberapa kurang sukses di pasaran, hingga di tahun 2010, Disney berhasil comeback lewat Tangled serta Wreck-It Ralph di tahun 2012. Tahun ini, Disney kembali dengan film animasi berjudul Frozen.

Nov 28, 2013

The Hunger Games: Catching Fire Review

 

"..our lives aren't just measured in years. The measure in our lives are the people we touch around us"

Lebih dari setahun yang lalu setelah novel The Hunger Games karya Suzanne Collins diangkat ke layar lebar, franchise ini mengalami perubahan yang cukup besar. Mulai dari penyutradaraan yang berubah dari Gary Ross ke Francis Lawrence, hingga level franchise ini yang jauh meningkat setelah salahsatu pemeran utamanya, Jennifer Lawrence, mendapat  Oscar tahun ini. Film pertamanya sendiri sukses dan dianggap sebagai penerus Saga Harry Potter dengan penggemar yang tak terhitung banyaknya. Hampir setiap update terbaru tentang film ini mengundang perhatian, terutama bagi pembaca novelnya yang ingin mengetahui siapa yang akan memerankan karakter baru favorit mereka, seperti Finnick Odair dan Johanna Mason. Tak dapat dipungkiri, Lionsgate has found their new money-making machine. Apalagi novel terakhirnya, Mockingjay, akan dipecah menjadi dua film, mengikuti film yang juga diangkat dari novel laris, Harry Potter dan Twilight, semakin memperkuat opini tersebut. Meskipun begitu, franchise ini memang memiliki kekuatan, terutama kisah pemberontakan dan isu sosial yang semakin terasa di buku kedua dan ketiganya.

Ender's Game Review

"In the moment when I truly understand my enemy, understand him well enough to defeat him, then in that very moment I also love him"
Butuh waktu hampir 30 tahun bagi Hollywood untuk mengangkat novel ini ke dalam media film. Ya, Ender's Game diangkat dari novel berjudul sama karangan Orson Scott Card yang dirilis tahun 1985 ini akhirnya berhasil difilmkan setelah banyaknya rencana memfilmkan film ini namun gagal karena beberapa alasan. Filmnya sendiri tidak banyak punya promosi di Indonesia, bahkan kalah populer dibandingkan Thor. Tapi ada alasan tertentu mengapa film ini jadi salahsatu film yang ditunggu. Novelnya sendiri di Amerika Utara banyak memenangkan penghargaan serta menjadi salahsatu bacaan yang direkomendasikan di sekolah militer. Dibintangi Asa Butterfield, Harrison Ford, Viola Davis, Hailee Steinfeld, Abigail Breslin hingga Ben Kingsley, siapa yang bisa menolak sederetan cast yang begitu menggiurkan?