Showing posts with label Film Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Film Indonesia. Show all posts

Dec 31, 2016

Cek Toko Sebelah Review

"Ternyata kalau kita berharap banyak, harus siap kecewa banyak"
Ernest Prakasa mungkin bisa dibilang salahsatu stand up comedian yang sukses di Indonesia. Ernest yang merupakan keturunan Tionghoa acap kali menggunakan kehidupan etnisnya sebagai materi stand up komedinya. Contohnya saja ketika menggarap film perdananya tahun lalu, Ngenest, yang terinspirasi dari kehidupan pribadinya. Meskipun terdengar ambisius ketika posisi sutradara, penulis scenario sekaligus aktor dipegang langsung oleh Ernest, toh film perdananya ini menuai sambutan positif dari penonton. Kali ini ia rupanya ketagihan, karna di penghujung tahun 2016 ini, ia kembali meluncurkan film kedua yang diberi judul Cek Toko Sebelah dimana Ernest kembali mengisi tiga posisi kunci, dan masih membawa etnis Tionghoa ke dalam penuturan ceritanya.

Sep 12, 2016

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 Review


"Jangkriknya wangi ya bos, Bangkok punya. Kalo jenis ayam, ini tipe broiler bos"

"Bukan menggantikan, tapi melestarikan", kira-kira begitulah yang dikatakan orang-orang yang berada di balik proses produksi film ini. Memang rasanya mustahil menggantikan grup lawak yang satu ini. Meski sudah lebih dari tiga dekade, film Warkop DKI masih terus menemani di layar televisi setiap tahun. In my personal opinion, filmnya tidak pernah membosankan dan leluconnya tidak pernah mati. Ketika masih rilis di bioskop dulu pada era 80-an, antrian panjang mengular setiap lebaran dan tahun baru demi film warkop. Ketika perfilman lokal mati suri di tahun 90-an, Warkop pun pindah ke layar tv meskipun tak sebooming filmnya. Bahkan pasca meninggalnya personel warkop, yakni Kasino di tahun 1997 kemudian disusul Dono di tahun 2001, film-film warkop masih terus menemani setiap lebaran di layar tv dan lawakannya terus hidup dari generasi ke generasi hingga saat ini. Besarnya nama warkop DKI membuat Falcon Pictures tertarik untuk 'menghidupkan' kembali film warkop di layar lebar yang beruntungnya direstui juga oleh satu-satunya personel yang masih hidup, Indro. Ide ini terdengar cukup gila sekaligus ambisius. Meraih animo penonton sudah pasti, namun apakah sesuai ekspektasi? Belum tentu.

Mar 6, 2016

Talak 3 Review

"Menunggu sesuatu yang tidak pasti itu memang menyakitkan.."

Lagi-lagi film Indonesia. Bulan februari kemarin memang banyak film Indonesia yang bagus dirilis. Untungnya setelah masih kebagian A Copy of My Mind (yang tayang cuma seminggu di bioskop di kota saya), seminggu kemudian saya menguatkan tekad nonton Talak 3 dan terpaksa mengesampingkan Zootopia. Kalau dipikir-pikir, saya juga bingung kenapa saya bisa nekad nonton film ini, karna sebenarnya saya juga kurang tertarik melihat poster (apalagi trailernya). Tapi respon dari para movie blogger yang luar biasa lah yang membuat saya tertarik menyaksikan film ini. Ditambah ada dua aktor Indonesia favorit saya menghias daftar pemerannya, yakni Vino G. Bastian dan Reza Rahadian, akhirnya Talak 3 berhasil membawa saya duduk manis di kursi bioskop, dimana hal ini adalah hal yang amat jarang terjadi, bahkan oleh film-film Raditya Dika sekalipun, yang meskipun hampir selalu jadi juara box office Indonesia, tapi gak pernah berhasil menarik minat saya sedikitpun.


Feb 16, 2016

A Copy of My Mind Review

"Oh kalo mau nyari yang bagus ya nyari yang asli lah, bajakan masa lu protes?"
Rasanya sudah lama sekali semenjak terkahir kali saya nonton film Indonesia di bioskop, tapi film ini rasanya adalah sebuah pengecualian. Sebelum tayang di bioskop secara luas februari tahun ini, A Copy of My Mind yang sejatinya adalah film rilisan tahun 2015, sudah mondar-mandir di berbagai festival internasional semacam Toronto International Film Festival dan Venice Film Festival tahun 2015. Bahkan pada Festival Film Indonesia tahun lalu, film ini memenangkan 3 Piala Citra dari 7 nominasi, yakni Pemeran Utama Wanita Terbaik untuk Tara Basro, Sutradara Terbaik untuk Joko Anwar, dan Penata Suara Terbaik. Semua predikat ini pastinya ikut menaikkan prestise dari A Copy of My Mind. Semenjak Joko Anwar terlibat sebagai penulis dalam film Arisan! yang legit itu, I'm completely adore his works. Jadi ketika mendengar Joko Anwar kembali duduk sebagai sutradara dari film A Copy of My Mind, I'm super excited. Apalagi dengan embel-embel yang sudah tersebut di atas, rasanya melewatkan film ini adalah sesuatu yang mustahil.

Dec 25, 2013

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Review


"Kau yang sanggup menjadikan saya seorang yang gagah berani, kau pula yang sanggup menjadikan saya sengsara selamanya"

Saya pernah menuliskan bahwa menonton film Indonesia di bioskop adalah sebuah pertaruhan. Ya, berbicara soal film Indonesia mungkin cukup sulit, karena memang sedikit sekali film Indonesia yang punya kadar hiburan dan kualitas tinggi secara bersamaan.  Atau mungkin bisa dibilang kebanyakan penonton sudah hilang kepercayaan terhadap film Indonesia, termasuk saya. Siapa sih yang mau buang-buang uang untuk film kacangan yang sebenarnya lebih layak jadi sinetron ketimbang film bioskop? Tahun ini kebetulan ada satu novel sastra lama karya Buya Hamka yang difilmkan yang cukup menarik perhatian saya, yakni Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, setelah kegagalan Di Bawah Lindungan Ka’bah yang tidak bisa saya nilai karena hingga detik ini pun saya belum pernah tonton. Jujur saja, saya tertarik menyimak film ini karna faktor saya pernah baca novelnya, itupun karena tugas sekolah (untuk tugas resensi buku seingat saya) serta faktor Reza Rahadian yang meskipun frekuensi munculnya beberapa tahun terakhir cukup mengerikan, tapi tidak bisa dipungkiri ia memang punya kualitas akting yang bagus. Jadi saya mencoba mengambil resiko menonton film ini. Lagipula trailer juga terlihat cukup menarik.

May 12, 2013

9 Summers 10 Autumns Review


"Memori masa kecil membuat aku bijak dalam mengenal diriku sekarang"

Saat ini bisa dibilang sulit mengembalikan kepercayaan penonton Indonesia untuk menikmati film karya anak bangsa. Bagaimana tidak, menonton film Indonesia di bioskop itu seperti sebuah taruhan besar, kalau tidak merasa puas sekali, ya pasti merasa rugi besar. Saya tidak mau munafik, saya pun tergolong susah untuk diajak nonton film Indonesia di bioskop. Alasannya sederhana, saya tidak mau membuang-buang uang untuk film medioker dengan penggarapan seadanya atau simpelnya seperti sinetron masuk bioskop. Harus diakui, saya hanya mau menyimak film lokal karya sutradara yang sudah punya kredit, film yang dapat review bagus dari kritikus lokal atau film-film yang masuk festival di luar negeri. Jujur, kalau film 9 Summers 10 Autumns ini bukan garapan sutradara Ifa Ifansyah, yang pernah memenangkan piala Citra kategori sutradara terbaik lewat film Sang Penari, mungkin saya akan melewatkan film ini. Film ini merupakan film yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Iwan Setyawan.

Mar 30, 2013

Belenggu Review


 

"Mimpi itu datang lagi..."

Perfilman Indonesia bisa dibilang sedang produktif-produktifnya. Dalam setahun, ada ratusan film yang dirilis. Sayangnya tidak semuanya berkualitas. Kebanyakan film memiliki kualitas ecek-ecek kalau tidak mau dibilang jelek. Apalagi genre komedi horor yang makin lama kualitasnya makin rendah. Selain itu, genre populer film Indonesia yang sering menghiasi bioskop adalah drama, romance dan komedi. Jarang ada film Indonesia dengan genre di luar itu. Maka ketika teaser poster Belenggu dirilis dengan tulisan 'A Thriller From Upi', maka rasanya ada secercah harapan, karena film Indonesia bergenre thriller sangat sedikit yang berkualitas. Dan jika melihat dari filmography Upi, rasanya tidak adil jika men-judge film ini lebih awal tanpa menontonnya.

Jun 20, 2012

Soegija Review


"Apa artinya terlahir sebagai bangsa yang merdeka jika gagal untuk mendidik diri sendiri?"
Garin Nugroho merupakan salahsatu sineas perfilman Indonesia yang sudah pasti paten melahirkan sebuah karya film yang menjanjikan dari segi cerita maupun sinematografi. Kali ini ia mengangkat sekelumit kehidupan Mgr. Albertus Soegijapranata. Sebagian besar dari kita pasti punya pertanyaan yang sama, who is Soegija? Well, nama tersebut mungkin asing di telinga generasi muda sekarang, even for me. Soegija adalah seorang uskup pribumi pertama yang diangkap oleh Gereja Katolik Indonesia. Jangan salah sangka, film ini tidak memiliki unsur kristenisasi seperti anggapan dan tudingan FPI. Malah saya berpikir dangkal sekali orang yang memiliki pikiran jika film ini dianggap menyelipkan upaya kristenisasi. Walaupun tokoh utamanya adalah seorang uskup, sama sekali tidak ada unsur agama yang mendetail. Malahan film ini kebanyakan bercerita tentang perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan. Dan, bagi yang belum tau, Mgr. Soegija merupakan salahsatu pahlawan nasional Indonesia.

May 11, 2012

Lovely Man Review

"..mereka ngeliat dengan mata, bukan dengan hati.."
Mendengar judul Lovely Man mungkin akan kurang familiar bagi sebagian dari kita. Film mana nih? I'll tell you, ini film Indonesia. Dan kalau masih belum tau juga, lihat poster filmnya, maka akan ditemukan sederet penghargaan terutama dari festival luar negeri. Ketika animo masyarakat sebagian besar tertuju pada film The Raid, diam-diam Donny Damara memenangkan Best Actor dalam Asian Film Award melalui film ini, mengalahkan seseorang yang telah memiliki nama di kancah Asia, Andy Lau. Bahkan film ini juga mendapat nominasi untuk kategori Best Director untuk ajang yang sama. Surprise? Totally! Excited to see? Of course! Dan saya berusaha membuktikan seberapa bagus film Lovely Man ini.

Apr 29, 2012

Pintu Terlarang Review

"I love you, Gambir" "I love you even more, Talyda"
Saya akui saya menonton film ini karna membaca banyak review Modus Anomali dan banyak yang membandingkan film tersebut dengan film ini. Banyak yang mengatakan bahwa film Pintu Terlarang tetap lebih baik dibandingkan dengan Modus Anomali. Film yang sama-sama disutradarai oleh Joko Anwar ini tetap dianggap pencapaian terbaik dari Joko Anwar. Saya penasaran, film macam apa yang bisa menyaingi film Modus Anomali yang, untuk ukuran film Indonesia, sudah membuat saya kagum bahkan sampai sekarang? Dibekali rasa penasaran, saya pun mencari dan menonton film yang diangkat dari novel Sekar Ayu Asmara ini untuk menjawab rasa penasaran saya.

Apr 28, 2012

Modus Anomali Review


"Sorry I couldn't protect us.."
Satu lagi film Indonesia yang memperoleh apresiasi di festival luar negeri. Ya, film ini sudah menghebohkan, terutama via Twitter, bahkan jauh sebelum filmnya dirilis. Walaupun tak seheboh film The Raid yang menjadi perbincangan bahkan hak ciptanya dibeli Sony, film ini terkesan lebih 'tenang' dan film Indonesia ini termasuk most anticipated movie tahun 2012. Joko Anwar, ialah salahsatu sineas Indonesia yang film-filmnya memang bukan tipikal film standar, karya-karyanya memang memiliki kedalaman cerita. Mungkin saya memang belum pantas bicara seperti ini, karna film Joko Anwar yang sudah saya tonton selain film ini hanyalah Janji Joni, yang ringan namun menggigit. Saya sudah terlanjur trauma menonton film Indonesia, yang bahkan genre horor-nya tidak lagi membuat saya takut, melainkan hanya mengernyitkan kening. Tapi saya berani mengatakan bahwa Joko Anwar bukan seorang sineas film biasa dan film-film karyanya juga pasti tidak biasa.

Mar 29, 2012

The Raid Review


"Kenapa harus kita? Kenapa harus hari ini?"
Mungkin inilah film lokal yang paling ditunggu-tunggu sepanjang tahun oleh penonton di Indonesia. Bagaimana tidak, film ini sudah menang banyak penghargaan dan mendapat apresiasi di luar negeri begitu besar, maka penonton di Indonesia sudah seharusnya menonton film ini. Walaupun saya agak telat nontonnya (karna rilis akhir bulan dimana kondisi keuangan memprihatinkan dan ada film lain yang sudah lama saya tunggu juga) tapi hal itu tidak menyurutkan niat saya untuk menonton film ini, mengingat ini film Indonesia yang punya kualitas dan banyak dibicarakan di luar negeri.