Showing posts with label Mystery. Show all posts
Showing posts with label Mystery. Show all posts

Jan 9, 2017

Arrival Review

"Memory is a strange thing"
Apabila kita mengetahui bagaimana masa depan kita, apa yang akan kita lakukan? Are we gonna do our best to avoid those bad things we already knew? or are we gonna still risk it all and live in the moment? Setidaknya itulah sekelumit pesan yang ingin dibagi oleh Dennis Villanueve dalam film terbarunya yang dilabeli Arrival ini. Sepanjang sejarah perfilman Hollywood, film yag berkaitan dengan alien rasanya sudah cukup banyak, macam Close Encounters of Third Kind, atau yang super-light macam Independence Day. Lantas apa hubungannya kalimat pertama saya di atas dengan alien? Arrival diceritakan dengan pendekatan yang berbeda, berpondasi sebagai sebuah science fiction namun lebur bersama dramanya yang penuh filosofi. Justru disini jadi satu hal menarik karna alih-alih berubah jadi film action cliche dengan ledakan disana sini, Arrival justru lebih personal dengan melibatkan kehidupan pribadi sang tokoh utama.

Jan 2, 2017

The Girl on the Train Review

"A teacher once told me I was the mistress of self reinvention. It's like having a secret and nobody but me knows I'm doing it. I want to start my life over again"
Film terbaru Emily Blunt yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Paula Hawkins ini sialnya harus masuk bioskop Indonesia sangat terlambat. Tayang worldwide bulan Oktober kemarin, nyatanya The Girl on the Train baru menyambangi bioskop Indonesia di akhir bulan Desember 2016. Film ini menjadi sangat menarik semenjak novelnya dibanding-bandingkan dengan Gone Girl karangan Gillian Flynn yang, sama-sama kita tahu, sangat sukses diterjemahkan ke layar lebar oleh David Fincher dua tahun lalu. Belum lagi novelnya sendiri bercokol di posisi puncak New York Times Fiction Best Seller of 2015 selama 13 minggu berturut-turut. Tentu saja Hollywood bergerak cepat dan mengangkat novelnya ke layar lebar, dengan Tate Taylor yang sebelumnya pernah menggarap The Help di tahun 2011. Dengan materi yang nyaris mirip, banyak yang berharap kalau versi film dari The Girl on the Train ini bisa sekuat Gone Girl.

Apr 13, 2016

10 Cloverfield Lane Review


"Crazy is building your ark after the flood has already come"

Ketika Cloverfield dirilis delapan tahun lalu, tidak ada yang menyangka kalau kisahnya berkembang jauh beberapa tahun kemudian. Gagasan sekuel pernah ada tapi tenggelam begitu saja seiring kesibukan dari sang produser. Dari judulnya saja sudah jelas, yang meskipun dibantah oleh sang produser, J.J Abrams yang terkenal selalu ketat dalam merahasiakan proyeknya, jelas film ini punya kaitan erat dengan Cloverfield meskipun hanya dari universe-nya saja. Seperti biasa, hampir setiap proyek garapan J.J Abrams selalu minim informasi. Begitu pula 10 Cloverfield Lane yang bahkan hingga trailer-nya dirilis juga masi banyak menimbulkan pertanyaan. Meskipun ada di bawah nama besar J.J Abrams dan Bad Robot, film ini digawangi oleh sutradara baru, Dan Trachtenberg. Meskipun ada embel-embel Cloverfield, nyatanya memang kisah ini tidak pernah terhubung secara langsung oleh serangan monster alien di New York dalam Cloverfield.


Apr 10, 2016

The Divergent Series: Allegiant Review

"You want change without sacrifice, you want peace without struggle. The world doesn't work that way"
Sebenarnya tidak ada yang berharap kalau novel pamungkas dari seri Divergent ini akan dipecah jadi dua. Pasalnya sejak awal, seri ini melangkah terseok-seok untuk menggaet penonton non-reader. Materi dari novelnya sendiri tidak relevan jika dibagi dua, yang jelas merupakan sebuah usaha untuk memperpanjang kisah ini. Dari keseluruhan film yang mengalami pemindahan materi dari novel ke film, mungkin hanya Harry Potter yang materinya paling layak dibagi menjadi dua film, sementara yang lainnya tentu saja hanya sebuah usaha mengeruk keuntungan, termasuk juga Allegiant ini. Masalahnya apakah penonton masih benar-benar punya minat untuk menyaksikan keduanya? Divergent tidak bisa dikatakan luar biasa, meskipun tidak sepenuhnya buruk juga. Insurgent meskipun penuh aksi, nyatanya juga tidak mampu menyamai prestasi Divergent. Jelas butuh usaha ekstra keras bagi seri pamungkas bagian pertama yang diberi judul Allegiant ini untuk mendapat kepercayaan dari penontonnya. Meskipun masih digawangi oleh Roberts Schwentke dan dipastikan seluruh cast lama kembali, tidak membuat Allegiant meledak di pasaran.

Aug 17, 2014

Quick Review: Jack Ryan: Shadow Recruit and Robocop


Sama-sama proyek reboot dan sama-sama rilis di awal tahun 2014, Jack Ryan: Shadow Recruit dan Robocop punya harapan yang cukup tinggi agar bisa menghidupkan kembali karakter punya tingkat popularitas yang cukup tinggi di era 90-an. 


Jan 31, 2014

Sherlock Season 3 Review

"Oh, do your research. I'm not a hero, I'm a high-functioning sociopath"
Terbayar sudah penantian panjang para Sherlockian. Setelah dua tahun lalu miniseri ini berakhir dengan misteri lolosnya Sherlock dari maut, awal tahun ini akhirnya Sherlock Holmes kembali! Kesibukan dua pemeran utamanya, yakni Benedict Cumberbatch dan Martin Freeman membuat miniseri ini harus mengalami hiatus panjang. Bayangkan saja, di tahun 2013, ada 5 film Benedict Cumberbatch yang dirilis, sedangkan Martin Freeman punya 3 film yang dirilis. Selain itu keduanya sama-sama terlibat dalam proyek besar Peter Jackson dalam trilogi The Hobbit. Maka wajarlah kalau harus ada jeda dua tahun. Ironisnya, penantian panjang dua tahun itu hanya dibayar dengan 3 episode, dan kemudian Sherlockian harus menunggu lagi hingga waktu yang belum ditentukan untuk mengetahui kelanjutannya, karena hingga saat ini belum ada kepastian mengenai air date season 4. Karena memang saya adalah salahsatu dari jutaan warga dunia yang menanti kembalinya Sherlock, maka saya kembali tumpahkan apa yang ada di dalam kepala saya disini, dan karena hanya 3 episode, I'll give a very quick and short review per episode as following below. Spoiler alert!

Aug 9, 2013

Trance Review

 
"The memory is not destroyed, it is locked in a cage, and with enough force, enough violence, the lock can be broken"
Bagaimana jika kita lupa tempat menyimpan sesuatu yang sangat berharga bagi kita? Bagaimana cara menemukannya? Padahal kita sama sekali tidak ingat apa-apa mengenai tempat barang tersebut disimpan. Hypnotherapy might be a way to solve the problem. Wait.. is it? Itulah yang diangkat Danny Boyle dalam karya terbarunya yang berjudul Trance. Tidak hanya menjual nama Danny Boyle yang memang sudah dikenal lewat karyanya yang critical acclaim seperti Trainspotting, Slumdog Millionaire hingga 127 Hours, film ini juga punya jajaran kasting yang cukup menjanjikan karena film ini dibintangi James McAvoy, Rosario Dawson hingga Vincent Cassel. Lalu apa sebenarnya makna dari kata Trance itu? Secara harfiah, Trance adalah keadaan di mana seseorang tidak sadarkan diri. Sesuai dengan yang sudah saya sebutkan sebelumnya, disebutkan bahwa hypnotherapy memungkinkan kita mengingat sesuatu dalam keadaan tidak sadar, dan itu memegang peranan penting dalam kisah film ini. Jadi sah-sah saja kalau film ini memasang judul Trance.

Jun 8, 2013

Now You See Me Review

"First rule of magic: always be the smartest person in the room"
Di balik hingar bingar summer blockbuster yang berkutat di seputar genre action, superhero ataupun science fiction, terselip satu film dengan genre yang cukup berbeda, yakni magic. Now tell me, siapa sih yang tidak tertarik dengan magic? Berbagai generasi, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, pasti suka dengan yang namanya sulap. Bahkan orang dewasa bisa terlihat layaknya anak-anak ketika menyaksikan pertunjukan sulap. Setelah kesuksesan The Prestige dan The Illusionist di tahun 2006 yang mengungkap kehidupan sekaligus trik pesulap, tahun ini ada sebuah film dengan tema magic yang berjudul Now You See Me. Menggabungkan konsep magic dan heist layaknya Ocean's trilogy, film yang ditukangi oleh Louis Leterrier, same guy who brought you The Incredible Hulk dan Clash of the Titans, dan iming-iming ensemble cast dengan nama-nama besar seperti Jesse Eisenberg, Isla Fisher, Woody Harrelson, Dave Franco, Mark Ruffalo, Morgan Freeman, hingga Michael Caine, boleh dibilang film ini cukup menarik minat penonton. Tanpa banyak gembar-gembor promo, film ini layaknya penyegar di tengah kejenuhan film-film bergenre action, superhero maupun sci fi. And for me, magic is always fun to watch.

After Earth Review


"Fear is not real. It is a product of thoughts you create. Do not misunderstand me. Danger is very real. But fear is a choice"

Beberapa tahun terakhir, karya-karya M. Night Shyamalan lebih banyak dicaci dibanding dipuji. Padahal dulu, M. Night Shayamalan banyak mendapat pujian, terutama dari The Sixth Sense, yang hingga saat ini masih diakui sebagai film dengan plot twist yang cerdas. The Unbreakable yang walaupun tidak sampai melampaui The Sixth Sense, namun tidak sampai terjerembab karena masih terbilang standar. Begitu pula The Sign dan The Village, terutama The Village yang twist-nya cukup membuat saya tertawa karena merasa dibodohi in a good way. Namun setelah itu, semenjak Lady in the Water, The Happening hingga The Last Airbender, kualitasnya jauh menurun dibanding karya-karya Shyamalan sebelumnya. Meskipun begitu, Shyamalan tidak patah semangat. Ia terus berkarya dan membuat film. Tahun ini ada satu film Shyamalan yang cukup menarik perhatian, karna berhasil membawa duet ayah-anak Will Smith dan Jaden Smith, yang berjudul After Earth. Promo yang bisa dibilang cukup besar, ditambah animo masyarakat yang ingin melihat kembali duet Will-Jaden Smith setelah berhasil mengharu biru di The Pursuit of Happyness, menjadikan film ini mendapat cukup banyak sorotan. Ditambah lagi sutradaranya adalah M. Night Shyamalan, publik ingin membuktikan apakah Shyamalan berhasil kembali ke masa-masa kejayaannya dahulu melalui film ini.

Apr 15, 2013

Sherlock Series Review

"Oh, I may be on the side of the angels, but don't think for one second that I am one of them"
 Dari begitu banyak series yang ada, gak banyak yang bener-bener saya ikutin. Ada Heroes yang berhenti saya ikutin di tengah-tengah season 2, Gossip Girl yang malah season 1 gak selesai saya tonton, True Blood yang juga berhenti di tengah-tengah season atau bahkan Entourage yang pernah saya tonton back-to-back tapi lupa season berapa. Butuh komitmen kuat untuk ngikutin satu series dari pilot sampe finale, karena kejenuhan pasti muncul, kecuali series itu bisa menjaga tensi ceritanya dari awal season. Selain itu, kita mesti rajin ngikutin jadwalnya di TV (kalau gak mau beli DVD-nya atau cara yang agak curang, download). Sedangkan hidup kita gak cuma diisi dengan nonton. Kadang kala kita harus ngelewatin satu episode karena ada satu dan lain hal yang lebih penting dari sekedar nonton. Sejauh ini cuma Glee yang masih saya ikuti dari season 1 sampe season 4, itupun saya sudah mulai ngerasa Glee mengalami penurunan kualitas, mulai dari plotnya yang menurun di season 2, sempat naik lagi di season 3 dan lagi-lagi harus turun di season 4. Yang masih membuat saya bertahan nonton Glee cuma lagu-lagunya yang memang kadang ada yang jelek, tapi yang bagus lebih banyak.

Apr 10, 2013

Stoker Review


 "...sometimes you need to do something bad to stop you from doing something worse" 

Pernah nonton Oldboy? Kalau sudah pernah nonton, pasti tau seberapa gilanya Oldboy. Kalau belum, segerakan menonton, sebelum Hollywood merusak versi Koreanya dengan proyek remake-nya.  Adalah Park Chan-Wook yang bertanggung jawab dibalik layar Oldboy yang sukses membuat pecinta film thriller menganga. Ya, kesuksesan trilogi Vengeance mengangkat namanya menjadi salahsatu sutradara asal negeri gingseng yang layak memperoleh pertimbangan di kancah perfilman internasional. Kali ini ia diberi kesempatan menyutradarai film Hollywood pertamanya yang berjudul Stoker. Sedikit mengingatkan dengan Bram Stoker Dracula? Yap, penulis naskahnya, Wentworth Miller yang dulu sempat dikenal sebagai aktor dalam serial Prison Break, memang mengatakan bahwa ada sedikit influence dari  kisah drakula tersebut (walaupun film ini tanpa drakula sama sekali) dan Shadow of A Doubt karya Hitchcock. Maka lengkaplah sudah segala macam unsur di atas semakin mempertinggi ekspektasi penonton, included me.

Mar 30, 2013

Belenggu Review


 

"Mimpi itu datang lagi..."

Perfilman Indonesia bisa dibilang sedang produktif-produktifnya. Dalam setahun, ada ratusan film yang dirilis. Sayangnya tidak semuanya berkualitas. Kebanyakan film memiliki kualitas ecek-ecek kalau tidak mau dibilang jelek. Apalagi genre komedi horor yang makin lama kualitasnya makin rendah. Selain itu, genre populer film Indonesia yang sering menghiasi bioskop adalah drama, romance dan komedi. Jarang ada film Indonesia dengan genre di luar itu. Maka ketika teaser poster Belenggu dirilis dengan tulisan 'A Thriller From Upi', maka rasanya ada secercah harapan, karena film Indonesia bergenre thriller sangat sedikit yang berkualitas. Dan jika melihat dari filmography Upi, rasanya tidak adil jika men-judge film ini lebih awal tanpa menontonnya.

Feb 22, 2013

The Bourne Legacy Review

" Jason Bourne was just the tip of the iceberg"
Setelah Bourne Ultimatum, masih butuhkah kita dengan kelanjutan agen rahasia yang lupa ingatan? Rupanya Hollywood masih merasa perlu untuk membuat sekuel. Anything could happen in Hollywood. Namun ketika faktor utama kesusksesan trilogy pertamanya tidak ikut serta kembali, masihkah film ini memiliki daya tarik? Paul Greengrass yang sukses menukangi dua film Bourne tidak kembali, begitu pula dengan Matt Damon. Maka produser harus benar-benar serius menentukan sutradara dan actor yang memiliki kualitas setara Matt Damon. Mungkin kekhawatiran bisa sedikit teratasi karna Tony Gilroy, yang juga terlibat pada Bourne Trilogy sebagai co-writer naik jabatan sebagai sutradara. Setidaknya Tony Gilroy punya pengalaman menyutradarai film Michael Clayton yang menghasilkan 8 nominasi Oscar. Sedangkan Jeremy Renner, aktor yang tahun lalu mendapat kesempatan mendampingi Tom Cruise serta sempat mencuri perhatian sebagai Hawkeye dalam film assemble superhero The Avengers, mendapat kesempatan menjadi leading role walaupun nama tokohnya tanpa embel-embel Bourne. Bagi saya, pemilihan Jeremy Renner bisa dibilang pilihan yang tepat mengingat Renner sedang berada dalam puncak karir. And you can say I’m a fan of him.

Feb 21, 2013

The Cabin In the Woods Review

"Forgive us and let us get it over with"
Rasanya sudah cukup lama saya tidak menulis di blog ini, padahal banyak sekali film yang saya tonton di bioskop. Untuk saat-saat ini saya memiliki waktu yang sangat terbatas untuk menulis di blog. Bahkan waktu untuk menonton film pun rasanya sedikit sekali. Yah apa boleh buat, ada kegiatan lain yang lebih mendesak yang harus dikerjakan. Tapi saya juga tidak mau meninggalkan blog ini begitu saja. Jadi walaupun terlambat (karena ini film 6 bulan yang lalu dan cuma Titanic yang bisa bertahan selama itu di bioskop) maka dengan penuh tekad saya tetap menulis di blog ini, tak peduli sudah sejauh apa saya ketinggalan.

Jun 7, 2012

Prometheus Review

"Big things have small beginnings"
Prometheus merupakan salah satu most anticipated movies in 2012 karna film ini mulanya merupakan proyek prekuel dari Alien Quadrology yang lebih dulu populer dengan Ellen Ripley. Namun seiring berjalannya proses syuting, rupanya Ridley Scott merubah pikirannya dan membuat cerita film ini berdiri sendiri walaupun nampaknya alien yang ditemui oleh Noomi Rapace sama dengan yang ditemui oleh Sigourney Weaver yang membuat cerita kedua film ini sangat bersinggungan antara satu dan lainnya. Dengan nama besar Ridley Scott di balik layar, film ini jelas punya formula khusus milik Scott yang membuat penggila Alien Quadrology menunggu-nunggu untuk menyaksikan film ini.

May 12, 2012

Oldboy Review

"Laugh, and the world will laugh with you. Weep, then you weep alone."
Kenyataan bahwa saya selalu menonton film-film lama yang punya reputasi bagus memang tidak bisa dipungkiri, dan hal yang sama telah menuntun saya kepada film Oldboy. Sebuah film asal negeri Gingseng yang identik dengan drama serba menguras air mata punya drama genre thriller dan menang penghargaan di Cannes Film Festival? Oh c'mon! Bukannya saya meremehkan film Korea, namun kenyataan bahwa memang film korea lebih sering bergelut dengan cinta-cintaan dan air mata yang.. cukup cliche membuat saya kadang enggan menyaksikan film Korea. Apalagi akhir-akhir ini Korea produktif sekali dengan  proyek boy/girl band yang mulai meracuni Indonesia dan.. ah lupakan soal boyband! Saya harusnya bercerita tentang reaksi saya setelah menonton film Oldboy yang sudah dapat banyak review positif ini.