Showing posts with label Action. Show all posts
Showing posts with label Action. Show all posts

Dec 31, 2016

Assassin's Creed Review


"We work from the dark to serve the light. We are assassins"
Menilik beberapa tahun ke belakang, film yang diangkat dari video games rasanya sedikit yang mendulang sukses secara kritik. Satu-satunya film yang kisahnya lahir dari video games yang masih sukses secara finansial hingga sekarang mungkin hanya Resident Evil yang entah ceritanya sudah melebar sampai kemana-mana. Terakhir di tahun ini ada Warcraft yang menurut saya pribadi juga tidak sepenuhnya oke, walaupun kalau dibilang jelek pun juga tidak sampai serendah itu. Warcraft sendiri tidak begitu mengkilap di mata kritikus. Assassin's Creed setidaknya terlihat sebagai satu case yang berbeda, karena ia punya jajaran top cast yang mumpuni, dengan sutradara yang tahun lalu sukses menggawangi Macbeth, Justin Kurzel. Bahkan ia juga memboyong Michael Fassbender dan Marion Cotillard yang sebelumnya juga satu layar dalam Macbeth. Berbekal nama besar aktor-aktornya, plus kebesaran dari game-nya sendiri yang jelas punya fanbase besar, di atas kertas harusnya Assassin's Creed bisa meredam ocehan para kritikus sekaligus mendulang kesuksesan dari segi pendapatan.

Rogue One: A Star Wars Story Review



"We have hope. Rebellions are built on hope"

Saga Star Wars memang punya potensi besar untuk diperluas kisahnya. Bukan hanya karna universe-nya yang memang begitu luas sehingga kemungkinan mengekspansi kisahnya juga sangat besar, tapi juga kemungkinan menjaring penonton jadi sangat besar karna tentu saja fans lama rasanya sulit melewatkan bahkan satu kisah sekalipun. Pasca tahun lalu Star Wars Episode VII: The Force Awaken sukses membawa aura nostalgia yang kental hadir lewat main storyline-nya (melanjutkan kisah terdahulu), tahun ini giliran Rogue One yang merupakan pembuka dari kisah antologi Star Wars yang nantinya akan dirilis Disney dengan konsep trilogi. Rogue One sendiri bisa dikatakan sebagai spin off dari kisah Star Wars, dimana kejadian dalam Rogue One ini berlangsung setelah Episode III: Revenge of The Sith dan sebelum Episode IV: A New Hope.

May 28, 2016

Captain America: Civil War Review


"Compromise where you can. Where you can't, don't. Even if everyone is telling you that something wrong is something right"

Marvel tak pelak sudah membangun kerajaan besar lewat trend superhero yang dibangkitkan sejak hampir sepuluh tahun lalu. Semenjak kehadiran Iron Man di layar perak tahun 2007, Marvel pelan-pelan membangun pondasinya menuju Avengers yang puncaknya direncanakan rilis tahun 2019. Tak bisa dipungkiri, Marvel memiliki perencanaan yang matang sejak awal. Lihat saja secara rutin Marvel menyelipkan post credit scene hampir di setiap filmnya sebagai petunjuk yang secara tidak langsung terkoneksi pada Avengers. Bukan hanya itu, bahkan Marvel mampu membuat karakter superhero yang mulanya tidak dikenal macam Guardian of the Galaxy menjadi satu sensasi baru. Tahun ini, Marvel sudah mengisi jadwalnya dengan Captain America: Civil War yang merupakan film stand-alone ketiga dari sang Captain sekaligus jembatan menuju film pamungkas Avengers nantinya. 


Apr 10, 2016

Batman v Superman: Dawn of Justice Review

"Devils don't come from hell beneath us. They come from the sky"
Pertarungan akbar mempertemukan dua superhero raksasa legendaris dari DC Comics akhirnya tiba juga. Semenjak diumumkan bahwa kelanjutan dari Man of Steel yang dirilis tiga tahun silam akan mempertemukan si manusia besi dan manusia kelelawar, DC seolah menjatuhkan bom atom, semua fanboy langsung jumpalitan, bahkan penonton awam pun juga sama excited-nya menanti terealisasinya proyek ini. Masih segar dalam ingatan kalau gagasan mempertemukan Superman dan Batman sudah ada sejak lama, bahkan pernah muncul sekelebat poster film Batman vs Superman dalam film I Am Legend (yang kebetulan rilisnya cukup berdekatan dengan Superman Returns), namun gagasan itu baru terealisasi setelah peluncuran Man of Steel dan baru kita bisa saksikan tahun ini lewat tangan Zack Snyder. Penantian yang panjang, jadi tidak heran kalau segala macam ekspektasi membumbung tinggi untuk film ini yang jelas sebagai penentu nasib Justice League ke depannya.

The Divergent Series: Allegiant Review

"You want change without sacrifice, you want peace without struggle. The world doesn't work that way"
Sebenarnya tidak ada yang berharap kalau novel pamungkas dari seri Divergent ini akan dipecah jadi dua. Pasalnya sejak awal, seri ini melangkah terseok-seok untuk menggaet penonton non-reader. Materi dari novelnya sendiri tidak relevan jika dibagi dua, yang jelas merupakan sebuah usaha untuk memperpanjang kisah ini. Dari keseluruhan film yang mengalami pemindahan materi dari novel ke film, mungkin hanya Harry Potter yang materinya paling layak dibagi menjadi dua film, sementara yang lainnya tentu saja hanya sebuah usaha mengeruk keuntungan, termasuk juga Allegiant ini. Masalahnya apakah penonton masih benar-benar punya minat untuk menyaksikan keduanya? Divergent tidak bisa dikatakan luar biasa, meskipun tidak sepenuhnya buruk juga. Insurgent meskipun penuh aksi, nyatanya juga tidak mampu menyamai prestasi Divergent. Jelas butuh usaha ekstra keras bagi seri pamungkas bagian pertama yang diberi judul Allegiant ini untuk mendapat kepercayaan dari penontonnya. Meskipun masih digawangi oleh Roberts Schwentke dan dipastikan seluruh cast lama kembali, tidak membuat Allegiant meledak di pasaran.

Mar 11, 2016

London Has Fallen Review

"..make no mistake, we will find you, and we will destroy you" 
Dari judulnya sudah jelas, ini adalah sekuel dari Olympus Has Fallen yang di tahun 2013 pernah menyapa kita di bioskop. Meskipun kisahnya mudah ditebak, tapi banyak yang menyukainya karna kadar action plus violence-nya yang tinggi. Hasil box office yang cukup besar kala itu tentu saja tidak bisa disepelekan begitu saja meskipun untuk kisah semacam ini sebenarnya tidak membutuhkan sekuel. Tahun ini sekuelnya dirilis dan bukan lagi Gedung Putih yang pertahanannya ditembus, tapi kota London yang menjadi saksi aksi terorisme. Tentu saja sekuelnya ini masih diperankan oleh 3 pemeran film sebelumnya yakni Gerard Butler, Aaron Eckhart dan Morgan Freeman. Penyutradaraannya tidak lagi dipegang oleh Anthony Fuqua, tapi berpindah ke Babak Najafi, seorang sutradara asal Iran dan ini adalah film pertamanya yang berbahasa inggris. Bukan tugas mudah melanjutkan kesuksesan seseorang dan Najafi punya tanggung jawab yang cukup besar.


Feb 20, 2016

Deadpool Review


"Whatever they did to me made me totally indestructible... and completely unfuckable"

Perlu ditekankan sekali lagi, Deadpool sebenarnya adalah antihero, ya karna dia sebenarnya brengsek tapi dia memerangi orang yang lebih brengsek dari dia, seperti yang dia bilang dalam filmnya. Setelah kemunculannya yang banyak dikritik di X-Men Origins: Wolverine karna tidak sesuai dengan penggambaran Wade Wilson/ Deadpool yang ada di komik, Deadpool akhirnya punya film sendiri tahun ini. Masih dibintangi Ryan Reynolds (yang memang ngotot banget supaya Deadpool punya film sendiri), film ini punya materi promo besar-besaran yang luar biasa unik, lewat gambar-gambar atau viral video yang nyeleneh dan bahkan cenderung 'mengganggu' poster film lain (ingat poster Mockingjay yang diparodikan sama Deadpool? Yes, he's an ass). Materi promo ini rupanya mampu menarik minat khalayak di tengah menjamurnya film bertema superhero, yang mungkin bahkan sebenarnya tidak pernah tau Deadpool itu siapa, asal keliatan pakai kostum superhero pun langsung dianggap mirip Spider-Man. Tapi sekali lagi, Deadpool itu antihero, karna kalau disebut superhero rasanya kurang layak juga.


Jan 27, 2016

The Hateful Eight Review

 "The name of the game is patience"
Karya kedelapan dari Quentin Tarantino ini cukup penuh sensasi. Script-nya sempat bocor ke publik di awal tahun 2014 dan Tarantino sempat ngambek sehingga memilih menghentikan proses produksi film ini. Tapi syukurlah Tarantino memutuskan untuk merombak naskah ceritanya dan kembali melanjutkan proses produksinya setelah mengadakan live reading dari script yang bocor tersebut. Dan ya, kalau bicara soal film Tarantino, saya lebih tertarik dengan ide cerita dan naskahnya ketimbang hal-hal lainnya. Film Tarantino punya story telling yang unik (kebanyakan non linier) dan tingkat violence yang cukup tinggi, jelas bukan selera semua orang. Saya bukan penggemar violence-nya, tapi saya hampir selalu suka naskah film-film Tarantino. I'm not a big fan of Tarantino, but couldn't miss every single of his movies. Aneh kan? Sama seperti Hateful Eight ini, bukan film yang saya nanti-nanti, tapi kalau gak nonton film ini rasanya seperti melewatkan sesuatu yang bagus.

Dec 22, 2015

Star Wars Episode VII: The Force Awakens Review


"Show me again the power of the darkness, and I'll let nothing stand in our way. Show me.. and I will finished what you started"

Semenjak diumumkan bahwa kisah Star Wars akan kembali dilanjutkan, banyak yang sangsi dengan keputusan ini. Kita tahu bahwa kisah ini sudah ditutup dengan sangat apik lebih dari 30 tahun yang lalu. Meskipun George Lucas tidak berhenti sampai disitu dan memilih melanjutkan kisahnya lewat trilogi prekuel soal latar belakang Darth Vader lebih dari 15 tahun yang lalu, keseluruhan kisah ini sudah dianggap tuntas dan rasanya tidak perlu dilanjutkan lagi. Tapi rupanya pihak Disney yang sudah membeli LucasFilm tidak sependapat dan menganggap masih ada yang bisa digali dari kisah ini. Maka diumumkankanlah bahwa Star Wars Episode VII: The Force Awakens  akan menjadi judul baru dari kisah ini yang dirilis di penghujung tahun 2015. Komentar miring banyak diluncurkan, meskipun banyak pula yang menaruh harapan, apalagi setelah J.J Abrams resmi ditunjuk sebagai sutradaranya. J.J Abrams bukan nama sembarangan dalam dunia perfilman,khusunya jalur sci-fi, karna ia adalah orang yang sama yang berhasil me-reboot kisah epik angkasa lainnya, Star Trek. 

Nov 26, 2015

The Hunger Games: Mockingjay Part 2

"Our lives were never ours, they belong to Snow and our deaths do too. But if you kill him, Katniss, all those deaths, they mean something"
Akhirnya, sampailah kita di penghujung seri Hunger Games. Beruntungnya seri ini punya Jennifer Lawrence, yang pada saat seri ini berlangsung berhasil memenangkan piala Oscar, dan meningkatkan prestise film yang diangkat dari novel young adult bersettingkan di negara fiksi bernama Panem karya Suzanne Collins. Peran yang sebenarnya bisa jatuh ke tangan aktris lain, namun akhirnya malah Jennifer Lawrence yang memerankan sang heroine utama, Katniss Everdeen, dan membuat namanya semakin luas dikenal publik. Film yang dulunya saya tonton cuma karna ada Josh Hutcherson, dan ternyata film ini alur cerita yang menarik. Penggemarnya baik pembaca novel maupun bukan pasti sudah menanti film pamungkas seri ini, karna sudah kita semua ketahui bahwa seri ini sudah berkembang menjadi saga besar yang selalu dinanti kehadirannya.

Spectre Review

"You're a kite dancing in a hurricane, Mr. Bond"
Nama James Bond sudah serupa brand yang akan selalu menarik perhatian. Bahkan desas-desus pemerannya selalu jadi buah bibir. Isu bahwa Spectre adalah film terakhir dimana Daniel Craig berperan sebagai Bond mulai sering terdengar, meskipun hingga saat ini belum ada kepastian mengenai hal itu. Tentu saja publik sudah mulai menerka siapa yang layak menggantikan Craig. Siapapun kandidatnya sebaiknya disimpan dulu, karna jelas Spectre akan menjadi pusat perhatian kalau memang ini aksi terakhir Craig sebagai Bond. Kali ini Spectre masih disutradarai oleh Sam Mendes, dengan Lea Seydoux terpilih sebagai Bond Girl dan Christoph Waltz sebagai karakter antagonis. Tentu saja kita semua mengharapkan aksi sang agen mata-mata MI6 asal Inggris ini akan jauh lebih besar dari Skyfall yang sukses dari sisi kritik dan finansial.


Nov 24, 2015

Terminator: Genisys Review



"One thing is certain: The future is not set"

Sejatinya ini sudah bukan film yang paling up-to-date lagi karna film ini sudah dirilis sejak Juli 2015, dan bukan salahsatu film unggulan saya di tahun 2015 ini. Kenyataan dimana saya nekad nonton film ini adalah tidak lain dan tidak bukan karna saya sudah ngikutin franchise sejak awal, dan bahkan sampai sekarang pun masih terpesona sendiri setiap nonton ulang Terminator 2: Judgement Day, padahal film ini sudah dibuat lebih dari 20 tahun yang lalu. Bahkan ketika franchise ini pada titik terendahnya, yakni Terminator Salvation, saya toh juga tetep nekad nonton, walaupun pada akhirnya Salvation gak dianggap (bahkan Rise of the Machines juga gak dianggap) ketika Genisys ini rilis. Dan yang lebih bikin hype lagi, Arnold Schwarzenegger kembali berperan sebagai sang Terminator, setelah sebelumnya absen di Salvation. Kalau ditilik, yang gak kenal franchise ini dari awal mungkin memang gak bakal minat, dan sepertinya film ini memang berusaha keras supaya bisa mengenalkan karakter-karakternya ke generasi sekarang, terbukti lewat soft reboot ini.


Sep 6, 2015

The Man from U.N.C.L.E Review


"American teaming up with Russia. That doesn't sound very friendly"

The Man from U.N.C.L.E? Apaan sih ini? Judulnya gak ngasih gambaran apa-apa, kecuali kamu emang sudah familiar sama serial TV-nya. Ya, film bertema mata-mata ini sebenarnya diadaptasi Guy Ritchie dari serial televisi jaman baheula, tepatnya tahun 1960-an. Don't blame yourself, I've never heard of it,  either. Pun promonya di Indonesia gak begitu marak, jadi kalau kamu kurang minat atau gak tau apa-apa ya wajar. Tapi gini deh, kalo kamu tau Henry Cavill main disini dan kamu tau Henry Cavill itu siapa, kamu pasti merubah pikiranmu. Yep, it's not a bird, it's not a plane, it's Superman. Satu alasan sudah kamu punya supaya gak melewatkan film ini, ada Henry Cavill yang sudah naik daun duluan sebagai si Superman.

Aug 18, 2014

X-Men: Days of Future Past Review

  
"The past: a new and uncertain world. A world of endless possibilities and infinite outcomes. Countless choices define our fate: each choice, each moment, a moment in the ripple of time. Enough ripple, and you change the tide... for the future is never truly set" 
Semenjak filmnya pertama kali dirilis di tahun 2000, X-Men sudah menjadi film superhero favorit saya. Ya, segerombolan mutan dengan kekuatan luar biasa ini merupakan pioner dari film superhero modern di era millenium. Setelah sebuah trilogy dan dua film spin-off Wolverine, tahun 2011 menjadi awal kembalinya mutan-mutan ini dengan setting berbeda lewat X-Men: First Class dimana ini juga merupakan reboot dari saga X-Men. Menuai sambutan positif, membuat saga X-Men hidup kembali dan membuat Bryan Singer kembali menduduki kursi sutradara. Tidak tanggung-tanggung, film yang mengadaptasi buku komik The Uncanny X-Men ini punya sederet ensemble cast yang menarik. Kalau kita sudah mengenal James McAvoy, Michael Fassbender dan Jennifer Lawrence sebagai Professor Xavier, Erik Lehnsherr/ Magneto dan Raven/ Mystique di First Class, film ini juga membawa sederet bintang dari trilogi sebelumnya seperti Halle Berry, Ellen Page hingga Anna Paquin serta tentu saja Hugh Jackman sang Wolverine.

Aug 17, 2014

The Amazing Spider-Man 2 Review

"Everyone has a part of themselves they hide. Even from the people they love"
Setelah di tahun 2012 Sony Pictures sukses me-reboot kisah superhero berkuatan laba-laba, tahun ini Sony kembali melanjutkan kisah pahlawan berkostum merah biru tersebut. Dengan amunisi yang sama dimana Marc Webb memegang kursi sutradara, sementara Andrew Garfield dan Emma Stone juga kembali memerankan Peter Parker dan Gwen Stacy. Tidak hanya sampai disitu, film ini kedatangan Dane DeHaan, Jamie Foxx, hingga Paul Giamatti dan Felicity Jones. Bahkan film ini juga berhasil menggaet Shailene Woodley sebagai Mary Jane Watson sebelum akhirnya diputuskan untuk menghilangkan semua adegan yang melibatkan Mary Jane dengan alasan karakter Mary Jane akan disimpan untuk film berikutnya meskipun kemungkinan besar Woodley tidak akan kembali memerankan Mary Jane karna jadwalnya yang padat. Semua bintang-bintang ini seharusnya sudah cukup membuat orang-orang rela mengantri untuk film ini selain nama besar Spider-Man yang memang luar biasa.

Divergent Review

"The future belongs to those who know where they belong"
Summit sepertinya mulai ketagihan mengadaptasi novel-novel yang punya potensi box office di layar lebar. Buktinya, satu lagi adaptasi novel young adult setelah sebelumnya The Hunger Games berhasil menuai kesuksesan baik dari segi kritik maupun finansial. Kali ini giliran novel karangan Veronica Roth berjudul Divergent yang kebagian jatah pindah ke layar lebar. Tidak main-main, film ini punya nama besar seperti artis muda berbakat Shailene Woodley hingga aktris peraih Oscar Kate Winslet. Novelnya sendiri punya cerita yang walaupun tidak sama persis tapi sedikit banyak memiliki kesamaan dengan The Hunger Games dan punya fan base yang cukup besar di seluruh dunia.

Quick Review: Jack Ryan: Shadow Recruit and Robocop


Sama-sama proyek reboot dan sama-sama rilis di awal tahun 2014, Jack Ryan: Shadow Recruit dan Robocop punya harapan yang cukup tinggi agar bisa menghidupkan kembali karakter punya tingkat popularitas yang cukup tinggi di era 90-an. 


Jan 25, 2014

The World's End Review

"Face it, we are the human race and we don't like being told what to do!"
Duet Edgar Wright dan Simon Pegg plus co-star favorit mereka, Nick Frost, memang sudah dua kali terbukti tidak mengecewakan. Tahun 2004 kita pernah dibawa bertahan hidup dari serangan zombie lewat horror comedy Shaun of the Dead. Kemudian di tahun 2007 kita dibawa menyelidiki kasus pembunuhan lewat action comedy Hot Fuzz. Lalu di tahun 2013, mereka kembali lagi dalam film science fiction comedy yang diberi judul The World's End. Uniknya, ketiga film tersebut saling berkaitan. Pengaitnya bukanlah cerita atau karakter seperti kebanyakan film yang dibuat trilogi, melainkan es krim Cornetto. Itulah sebabnya mengapa ketiga film tersebut disebut sebagai "Three Flavours Cornetto Trilogy". Masing-masing film menampilkan es krim Cornetto dengan rasa berbeda sebagai simbol dari tema filmnya. Strawberry-flavored di Shaun of the Dead untuk memberikan kesan bloody and gory, kemudian Blue Original Cornetto dalam Hot Fuzz sebagai wakil dari tema polisi dan Mint Chocolate Chip untuk The World's End untuk mewakili tema science fiction pada filmnya.

Dec 26, 2013

Snowpiercer Review

"I belong to the front, you  belong to the tail. Keep in your place"
Tidak bisa dipungkiri, meskipun Korea Selatan hampir selalu identik dengan drama cengeng, tidak sedikit juga drama thriller asal Negeri Gingseng ini yang punya reputasi bagus. Saya pribadi masih memfavoritkan Oldboy sebagai pemuncak film asal Korea Selatan yang paling memikat. Yah, meskipun memang harus diakui bahwa saya bukan tipe penikmat film Asia dan sedikit selektif terhadap film Asia, tapi saya harus akui bahwa Korea Selatan saat ini bisa dibilang sebagai negara Asia yang paling aktif melemparkan filmnya ke pasar internasional. Kali ini saya membicarakan tentang film Snowpiercer, yang disutradarai Bong Joo-Ho. Seandainya Anda tidak familiar dengan namanya, mungkin akan familiar mendengar salahsatu filmnya, yakni The Host (bukan, bukan film Saoirse Ronan yang gaje itu) di tahun 2006, atau Mother di tahun 2009. Diangkat dari novel grafis asal Perancis yang berjudul "Le Transperceneige", film ini dibintangi oleh aktor berbagai ras asal Amerika, Korea Selatan dan Afro Amerika.  Ramainya nama-nama populer di poster jelas menjadi daya tarik tersendiri, meskipun film ini tergolong minim promosi dan di Indonesia sendiri ditayangkan di jaringan bioskop terbatas.

Nov 28, 2013

The Hunger Games: Catching Fire Review

 

"..our lives aren't just measured in years. The measure in our lives are the people we touch around us"

Lebih dari setahun yang lalu setelah novel The Hunger Games karya Suzanne Collins diangkat ke layar lebar, franchise ini mengalami perubahan yang cukup besar. Mulai dari penyutradaraan yang berubah dari Gary Ross ke Francis Lawrence, hingga level franchise ini yang jauh meningkat setelah salahsatu pemeran utamanya, Jennifer Lawrence, mendapat  Oscar tahun ini. Film pertamanya sendiri sukses dan dianggap sebagai penerus Saga Harry Potter dengan penggemar yang tak terhitung banyaknya. Hampir setiap update terbaru tentang film ini mengundang perhatian, terutama bagi pembaca novelnya yang ingin mengetahui siapa yang akan memerankan karakter baru favorit mereka, seperti Finnick Odair dan Johanna Mason. Tak dapat dipungkiri, Lionsgate has found their new money-making machine. Apalagi novel terakhirnya, Mockingjay, akan dipecah menjadi dua film, mengikuti film yang juga diangkat dari novel laris, Harry Potter dan Twilight, semakin memperkuat opini tersebut. Meskipun begitu, franchise ini memang memiliki kekuatan, terutama kisah pemberontakan dan isu sosial yang semakin terasa di buku kedua dan ketiganya.