Jan 2, 2017

The Girl on the Train Review

"A teacher once told me I was the mistress of self reinvention. It's like having a secret and nobody but me knows I'm doing it. I want to start my life over again"
Film terbaru Emily Blunt yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Paula Hawkins ini sialnya harus masuk bioskop Indonesia sangat terlambat. Tayang worldwide bulan Oktober kemarin, nyatanya The Girl on the Train baru menyambangi bioskop Indonesia di akhir bulan Desember 2016. Film ini menjadi sangat menarik semenjak novelnya dibanding-bandingkan dengan Gone Girl karangan Gillian Flynn yang, sama-sama kita tahu, sangat sukses diterjemahkan ke layar lebar oleh David Fincher dua tahun lalu. Belum lagi novelnya sendiri bercokol di posisi puncak New York Times Fiction Best Seller of 2015 selama 13 minggu berturut-turut. Tentu saja Hollywood bergerak cepat dan mengangkat novelnya ke layar lebar, dengan Tate Taylor yang sebelumnya pernah menggarap The Help di tahun 2011. Dengan materi yang nyaris mirip, banyak yang berharap kalau versi film dari The Girl on the Train ini bisa sekuat Gone Girl.

Dec 31, 2016

Cek Toko Sebelah Review

"Ternyata kalau kita berharap banyak, harus siap kecewa banyak"
Ernest Prakasa mungkin bisa dibilang salahsatu stand up comedian yang sukses di Indonesia. Ernest yang merupakan keturunan Tionghoa acap kali menggunakan kehidupan etnisnya sebagai materi stand up komedinya. Contohnya saja ketika menggarap film perdananya tahun lalu, Ngenest, yang terinspirasi dari kehidupan pribadinya. Meskipun terdengar ambisius ketika posisi sutradara, penulis scenario sekaligus aktor dipegang langsung oleh Ernest, toh film perdananya ini menuai sambutan positif dari penonton. Kali ini ia rupanya ketagihan, karna di penghujung tahun 2016 ini, ia kembali meluncurkan film kedua yang diberi judul Cek Toko Sebelah dimana Ernest kembali mengisi tiga posisi kunci, dan masih membawa etnis Tionghoa ke dalam penuturan ceritanya.

Assassin's Creed Review


"We work from the dark to serve the light. We are assassins"
Menilik beberapa tahun ke belakang, film yang diangkat dari video games rasanya sedikit yang mendulang sukses secara kritik. Satu-satunya film yang kisahnya lahir dari video games yang masih sukses secara finansial hingga sekarang mungkin hanya Resident Evil yang entah ceritanya sudah melebar sampai kemana-mana. Terakhir di tahun ini ada Warcraft yang menurut saya pribadi juga tidak sepenuhnya oke, walaupun kalau dibilang jelek pun juga tidak sampai serendah itu. Warcraft sendiri tidak begitu mengkilap di mata kritikus. Assassin's Creed setidaknya terlihat sebagai satu case yang berbeda, karena ia punya jajaran top cast yang mumpuni, dengan sutradara yang tahun lalu sukses menggawangi Macbeth, Justin Kurzel. Bahkan ia juga memboyong Michael Fassbender dan Marion Cotillard yang sebelumnya juga satu layar dalam Macbeth. Berbekal nama besar aktor-aktornya, plus kebesaran dari game-nya sendiri yang jelas punya fanbase besar, di atas kertas harusnya Assassin's Creed bisa meredam ocehan para kritikus sekaligus mendulang kesuksesan dari segi pendapatan.

Passengers Review

 
"You can't get so hung up on where you'd rather be, that you forget to make the most of where you are"
Jennifer Lawrence. Chris Pratt. Dalam satu film. Bersetting di luar angkasa. Mendengar empat kalimat tersebut rasanya mustahil untuk tidak excited dengan film terbaru karya Morten Tydlum ini. Tanpa perlu tahu banyak plotnya saja sudah terdengar menarik, apalagi kedua nama yang baru pertama kali dipasangkan dalam satu layar ini sedang naik daun di dunia perfilman Hollywood. Promosinya sendiri cukup menarik, bahkan digadang sebagai “Titanic in outer space”. Memang film bertema luar angkasa sedang naik daun beberapa tahun terakhir. Maka, tentu saja, jadilah Passengers menjadi salahsatu film yang ditunggu di penghujung tahun 2016 ini.

Rogue One: A Star Wars Story Review



"We have hope. Rebellions are built on hope"

Saga Star Wars memang punya potensi besar untuk diperluas kisahnya. Bukan hanya karna universe-nya yang memang begitu luas sehingga kemungkinan mengekspansi kisahnya juga sangat besar, tapi juga kemungkinan menjaring penonton jadi sangat besar karna tentu saja fans lama rasanya sulit melewatkan bahkan satu kisah sekalipun. Pasca tahun lalu Star Wars Episode VII: The Force Awaken sukses membawa aura nostalgia yang kental hadir lewat main storyline-nya (melanjutkan kisah terdahulu), tahun ini giliran Rogue One yang merupakan pembuka dari kisah antologi Star Wars yang nantinya akan dirilis Disney dengan konsep trilogi. Rogue One sendiri bisa dikatakan sebagai spin off dari kisah Star Wars, dimana kejadian dalam Rogue One ini berlangsung setelah Episode III: Revenge of The Sith dan sebelum Episode IV: A New Hope.

Dec 12, 2016

Sing Review



"You know what's great about hitting rock bottom? There's only one way left to go, and that's up"

Film animasi yang berkisah soal talking animal jelas bukan hal yang istimewa. Masih jelas di ingatan awal tahun ini kita sudah punya Zootopia dari Disney yang tidak hanya memiliki visual yang luar biasa namun juga kisah yang sarat makna. Kenapa Zootopia? Karna setidaknya ada satu kemiripan antara Zootopia dengan Sing, yakni negeri yang dipenuhi binatang yang bertingkah layaknya manusia. Lalu apa yang menjadi kekuatan film rilisan terbaru dari Illumination Entertainment yang sebelumnya sukses besar lewat Despicable Me, Minions serta The Secret Life of Pets ini? Sing menonjolkan musik sebagai kekuatannya, setidaknya itu terlihat lewat trailer-trailernya. Belum lagi dukungan nama-nama besar di balik karakter-karakter hewan yang menggemaskan seperti Matthew McConaughey, Reese Witherspoon, Seth McFarlane, Scarlett Johansson, Taron Egerton hingga Tori Kelly. Dirilis pada liburan akhir tahun, Sing tentu saja salahsatu pilihan yang menarik.

Sep 12, 2016

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 Review


"Jangkriknya wangi ya bos, Bangkok punya. Kalo jenis ayam, ini tipe broiler bos"

"Bukan menggantikan, tapi melestarikan", kira-kira begitulah yang dikatakan orang-orang yang berada di balik proses produksi film ini. Memang rasanya mustahil menggantikan grup lawak yang satu ini. Meski sudah lebih dari tiga dekade, film Warkop DKI masih terus menemani di layar televisi setiap tahun. In my personal opinion, filmnya tidak pernah membosankan dan leluconnya tidak pernah mati. Ketika masih rilis di bioskop dulu pada era 80-an, antrian panjang mengular setiap lebaran dan tahun baru demi film warkop. Ketika perfilman lokal mati suri di tahun 90-an, Warkop pun pindah ke layar tv meskipun tak sebooming filmnya. Bahkan pasca meninggalnya personel warkop, yakni Kasino di tahun 1997 kemudian disusul Dono di tahun 2001, film-film warkop masih terus menemani setiap lebaran di layar tv dan lawakannya terus hidup dari generasi ke generasi hingga saat ini. Besarnya nama warkop DKI membuat Falcon Pictures tertarik untuk 'menghidupkan' kembali film warkop di layar lebar yang beruntungnya direstui juga oleh satu-satunya personel yang masih hidup, Indro. Ide ini terdengar cukup gila sekaligus ambisius. Meraih animo penonton sudah pasti, namun apakah sesuai ekspektasi? Belum tentu.

Sep 8, 2016

Don't Breathe Review


"Just because he’s blind doesn’t mean he’s a saint, bro. It’s going to be a piece of cake"

Fede Alvarez, sutradara asal Uruguay yang selama ini dikenal sebagai sosok dibalik semi remake/ reboot/ sekuel Evil Dead (2013), kembali bekerja sama dengan Sam Raimi dalam film horror thriller terbaru berjudul Don't Breathe. Berkaca dari pengalaman Evil Dead (2013), yang meskipun dianggap tidak 'segila' versi originalnya di tahun 1981 karya Sam Raimi, toh Evil Dead versi Alvarez berhasil menebar kengerian lewat serangkaian adegan yang, jujur saja mampu membuat bergidik. Maka tak heran seandainya film yang awalnya hendak diberi judul 'A Man in the Dark' ini mampu menarik minat pecinta horor. Banyak memboyong kru yang pernah bekerja di Evil Dead, termasuk sang pemeran utama Jane Levy, Fede Alvarez setidaknya menjadi salahsatu jaminan kalau film ini akan jadi satu tontonan yang menarik. Belum lagi nama besar Sam Raimi yang pernah sukses lewat Evil Dead original dan Drag Me to Hell masih setia mendukung dari kursi produser.

May 28, 2016

Captain America: Civil War Review


"Compromise where you can. Where you can't, don't. Even if everyone is telling you that something wrong is something right"

Marvel tak pelak sudah membangun kerajaan besar lewat trend superhero yang dibangkitkan sejak hampir sepuluh tahun lalu. Semenjak kehadiran Iron Man di layar perak tahun 2007, Marvel pelan-pelan membangun pondasinya menuju Avengers yang puncaknya direncanakan rilis tahun 2019. Tak bisa dipungkiri, Marvel memiliki perencanaan yang matang sejak awal. Lihat saja secara rutin Marvel menyelipkan post credit scene hampir di setiap filmnya sebagai petunjuk yang secara tidak langsung terkoneksi pada Avengers. Bukan hanya itu, bahkan Marvel mampu membuat karakter superhero yang mulanya tidak dikenal macam Guardian of the Galaxy menjadi satu sensasi baru. Tahun ini, Marvel sudah mengisi jadwalnya dengan Captain America: Civil War yang merupakan film stand-alone ketiga dari sang Captain sekaligus jembatan menuju film pamungkas Avengers nantinya.