Feb 6, 2016

The Revenant Review

"Revenge is in God's hand, not mine"
The Revenant, kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya adalah seseorang yang bangkit dari kematian. Judulnya sebenarnya sudah menyimpulkan isi ceritanya. Bukan, ini bukan film horor atau film zombie, tapi lebih ke survival. Film ini punya dua keuntungan, yaitu dari nama sutradara dan pemeran utamanya. Sutradaranya adalah Alejandro González Iñárritu, yang tahun lalu menang besar di ajang Oscar lewat Birdman, sementara aktor utamanya adalah Leonardo DiCaprio yang meskipun hampir selalu tampil bagus, sialnya dia belum pernah sekalipun menggenggam piala Oscar. Jadi sebenarnya film ini merupakan pengharapan bagi setiap umat penganut aliran fans DiCaprio, dan setiap doa yang dipanjatkan adalah semoga Leo bisa menang Oscar tahun ini. Nope, saya bukan hater-nya Leo, saya juga nge-fans dengan beliau sejak penampilannya sebagai Arnie Grape di What's Eating Gilbert Grape?, tapi semua pasti akan tiba pada waktunya kok. Martin Scorsese juga selalu bikin film bagus sejak Taxi Driver di tahun 1976, bolak balik dinominasikan Oscar kategori Best Director delapan kali hingga saat ini, tapi baru sekali menang di tahun 2006 lewat The Departed. See

Feb 2, 2016

The Martian Review



"Every time something goes wrong, the world forgets why we fly"
Yes, film ini sudah saya tonton sejak september 2015, tapi baru sempat direview sekarang karna ke(sok)sibukan saya dan kebetulan juga beberapa minggu lalu baru nonton lagi, jadi agak fresh. The Martian punya poster yang cukup percaya diri, cukup dengan pasang wajah Matt Damon dan tagline "Bring Him Home", film ini sudah berhasil mencuri perhatian. Tapi tetap saya gak punya keinginan cari tahu film ini tentang apa. Yang pasti sih setting-nya outer space, karna Matt Damon pakai kostum astronot di posternya. Tagline-nya malah mengingatkan sama judul salahsatu lagu di drama Broadway populer, Les Miserables. Saya bukan pemuja Matt Damon, meskipun harus diakui Matt Damon punya kualitas akting yang tidak bisa disepelekan, tapi film ini langsung masuk watch list saya kemarin. Kenapa? Karna ada nama Ridley Scott di belakangnya. Ridley Scott sudah jadi dedengkot di dunia perfilman, bahkan banyak sutradara muda yang ter-influenced dengan penyutradaraan beliau. Seri Alien, Blade Runner, Gladiator hingga yang paling akhir, Prometheus, sudah jadi buktinya. Jadi, sebenarnya cuma dua faktor yang menarik minat saya, Ridley Scott dan Matt Damon. Ceritanya? Saya sedikit pun gak pernah cari tahu. Bahkan nonton trailer-nya pun tidak.

Jan 27, 2016

The Hateful Eight Review

 "The name of the game is patience"
Karya kedelapan dari Quentin Tarantino ini cukup penuh sensasi. Script-nya sempat bocor ke publik di awal tahun 2014 dan Tarantino sempat ngambek sehingga memilih menghentikan proses produksi film ini. Tapi syukurlah Tarantino memutuskan untuk merombak naskah ceritanya dan kembali melanjutkan proses produksinya setelah mengadakan live reading dari script yang bocor tersebut. Dan ya, kalau bicara soal film Tarantino, saya lebih tertarik dengan ide cerita dan naskahnya ketimbang hal-hal lainnya. Film Tarantino punya story telling yang unik (kebanyakan non linier) dan tingkat violence yang cukup tinggi, jelas bukan selera semua orang. Saya bukan penggemar violence-nya, tapi saya hampir selalu suka naskah film-film Tarantino. I'm not a big fan of Tarantino, but couldn't miss every single of his movies. Aneh kan? Sama seperti Hateful Eight ini, bukan film yang saya nanti-nanti, tapi kalau gak nonton film ini rasanya seperti melewatkan sesuatu yang bagus.

Jan 17, 2016

The Big Short Review


"Wall Street loves to use confusing terms, to make you think only they can do what they do. Or even better, for you just to leave them the fuck alone"

Kalau dibaca dari judulnya, mungkin kita tidak punya gambaran apa-apa tentang isi filmnya. The Big Short? What the hell is this movie about? Tapi kalau sudah membaca deretan cast-nya, siapa yang yang tidak tertarik? (We all women like them, at least). Nama Christian Bale, Steve Carell, Ryan Gosling dan Brad Pitt terpajang manis di posternya. Keempat nama ini tentu menarik perhatian, dan mampu membuat calon penonton (termasuk saya) cari tahu soal isi filmnya.  Dan ternyata ini tentang krisis perekonomian global di Amerika Serikat pada tahun 2008 silam. What? Another economics things? Saya gak pernah paham soal perekonomian terutama yang terkait soal saham. Waktu nonton The Wolf of Wall Street, saya cuma menangkap kehidapan pribadi Jordan Belfort, yang memang diceritakan secara komedi, dan membuat Wolf of Wall Street lebih mudah dipahami oleh dummies seperti saya. About the broker things? No idea at all. Jadi begitu tahu The Big Short ini bakal memuat konten yang kurang lebih sama, rasanya banyak yang perlu saya pertaruhkan, apalagi film ini bukan dari kisah yang saya suka.

Jan 3, 2016

Creed Review

 
"Time takes everybody out. Time is undefeated"
Sebelum memulai, ada satu yang perlu ditekankan, I'm not a Rocky fan. Alih-alih fan, nonton filmnya barang sekalipun juga belum pernah. And I'm not a Sly fan. Sylvester Stallone mungkin aktor bagus pada masanya, but clearly not my favorite one. Jadi setelah enam film, dan hanya film pertamanya yang menang Oscar kategori Best Picture, kenapa masih diteruskan kelanjutannya? Seolah kisah Rocky tidak pernah berhenti sampai karakter itu sendiri mati.  Ya, mungkin Rocky jadi salahsatu America's favorite hero, itulah sebabnya, dan film pertamanya merupakan film yang sarat akan harapan. Lihat saja, patung Rocky bahkan dipajang di sekitar Museum Philadelphia. Lantas kenapa saya yang bukan fans lalu nekad nonton Creed? Well, faktanya film spin off dari Rocky ini dapat sambutan kritik yang tidak bisa diremehkan, bahkan nama Stallone masuk dalam nominasi Golden Globe kategori Best Supporting Actor. Dan, film ini sudah tidak lagi fokus pada sang legenda Rocky Balboa, tapi lebih ke sang karakter baru, Adonis Creed.

Jan 1, 2016

A year in flashback: Hottie and Nottie in 2015


2015 is great year. Why did I say that? Karna ada banyak sekali film bagus yang dirilis. Meskipun kebanyakan berupa sekuel maupun reboot, tapi nyatanya banyak yang menarik dari film di tahun 2015 ini. Kembali saya menuliskan film-film terbaik yang dirilis di tahun 2015 ini. Meskipun banyak juga yang menurut saya mengecewakan, mungkin pengaruh hype yang berlebihan, tapi tidak sedikit pula yang memuaskan. Dan kembali ke kebiasaan, saya hanya menulis 10 film terbaik yang hanya saya saksikan di bioskop, bukan media lain. Jadi kalau misalnya menemukan film bagus tapi tidak dalam list ini (misalnya Black Mass atau Bridge of Spies) itu artinya saya tidak sempat menyaksikan filmnya di bioskop karna jadwal tayangnya yang singkat. Ada banyak film besar yang dirilis, sayangnya banyak pula yang menderita karna tidak sesuai ekspektasi. Here are my top ten movies in 2015


Dec 22, 2015

Star Wars Episode VII: The Force Awakens Review


"Show me again the power of the darkness, and I'll let nothing stand in our way. Show me.. and I will finished what you started"

Semenjak diumumkan bahwa kisah Star Wars akan kembali dilanjutkan, banyak yang sangsi dengan keputusan ini. Kita tahu bahwa kisah ini sudah ditutup dengan sangat apik lebih dari 30 tahun yang lalu. Meskipun George Lucas tidak berhenti sampai disitu dan memilih melanjutkan kisahnya lewat trilogi prekuel soal latar belakang Darth Vader lebih dari 15 tahun yang lalu, keseluruhan kisah ini sudah dianggap tuntas dan rasanya tidak perlu dilanjutkan lagi. Tapi rupanya pihak Disney yang sudah membeli LucasFilm tidak sependapat dan menganggap masih ada yang bisa digali dari kisah ini. Maka diumumkankanlah bahwa Star Wars Episode VII: The Force Awakens  akan menjadi judul baru dari kisah ini yang dirilis di penghujung tahun 2015. Komentar miring banyak diluncurkan, meskipun banyak pula yang menaruh harapan, apalagi setelah J.J Abrams resmi ditunjuk sebagai sutradaranya. J.J Abrams bukan nama sembarangan dalam dunia perfilman,khusunya jalur sci-fi, karna ia adalah orang yang sama yang berhasil me-reboot kisah epik angkasa lainnya, Star Trek. 

Nov 26, 2015

The Hunger Games: Mockingjay Part 2

"Our lives were never ours, they belong to Snow and our deaths do too. But if you kill him, Katniss, all those deaths, they mean something"
Akhirnya, sampailah kita di penghujung seri Hunger Games. Beruntungnya seri ini punya Jennifer Lawrence, yang pada saat seri ini berlangsung berhasil memenangkan piala Oscar, dan meningkatkan prestise film yang diangkat dari novel young adult bersettingkan di negara fiksi bernama Panem karya Suzanne Collins. Peran yang sebenarnya bisa jatuh ke tangan aktris lain, namun akhirnya malah Jennifer Lawrence yang memerankan sang heroine utama, Katniss Everdeen, dan membuat namanya semakin luas dikenal publik. Film yang dulunya saya tonton cuma karna ada Josh Hutcherson, dan ternyata film ini alur cerita yang menarik. Penggemarnya baik pembaca novel maupun bukan pasti sudah menanti film pamungkas seri ini, karna sudah kita semua ketahui bahwa seri ini sudah berkembang menjadi saga besar yang selalu dinanti kehadirannya.

The Hunger Games: Mockingjay Part 1


"You can torture us, bomb us, or burn our district to the ground. But do you see that? Fire is catching. If we burn, you burn with us!"

Karna tahun 2015 menjadi tahun terakhir Hunger Games dirilis, dan sebelumnya tulisan soal Part 1 belum ada, jadi rasanya ada yang kurang kalau saya menulis soal Part 2 tanpa ada Part 1. Dan tentu saja, Hunger Games sudah jelas menjadi fenomena baru yang luar biasa. Sejak seri pertamanya, film ini sudah menyita perhatian. Tahun 2014 film ketiganya yang diangkat dari novel seri ketiga Hunger Games, Mockingjay, dirilis serta dipecah menjadi 2 film, seperti layaknya film-film yang diangkat dari novel seperti Harry Potter dan Twilight,  yang seri terakhirnya dipecah menjadi 2 bagian. Bicara soal Hunger Games memang tidak bisa lepas dari Harry Potter dan Twiight yang sudah lebih dulu sukses di layar lebar, Tentu saja masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Yang jelas kesamaanya adalah sukses di layar lebar yang berimbas pada seri novel terakhirnya dipecah menjadi dua part di layar lebar demi profit. Tujuannya tentu saja memperpanjang umur seri ini, dan semakin panjang umur sebuah seri, semakin besar income yang diperoleh.