Apr 10, 2016

Batman v Superman: Dawn of Justice Review

"Devils don't come from hell beneath us. They come from the sky"
Pertarungan akbar mempertemukan dua superhero raksasa legendaris dari DC Comics akhirnya tiba juga. Semenjak diumumkan bahwa kelanjutan dari Man of Steel yang dirilis tiga tahun silam akan mempertemukan si manusia besi dan manusia kelelawar, DC seolah menjatuhkan bom atom, semua fanboy langsung jumpalitan, bahkan penonton awam pun juga sama excited-nya menanti terealisasinya proyek ini. Masih segar dalam ingatan kalau gagasan mempertemukan Superman dan Batman sudah ada sejak lama, bahkan pernah muncul sekelebat poster film Batman vs Superman dalam film I Am Legend (yang kebetulan rilisnya cukup berdekatan dengan Superman Returns), namun gagasan itu baru terealisasi setelah peluncuran Man of Steel dan baru kita bisa saksikan tahun ini lewat tangan Zack Snyder. Penantian yang panjang, jadi tidak heran kalau segala macam ekspektasi membumbung tinggi untuk film ini yang jelas sebagai penentu nasib Justice League ke depannya.

The Divergent Series: Allegiant Review

"You want change without sacrifice, you want peace without struggle. The world doesn't work that way"
Sebenarnya tidak ada yang berharap kalau novel pamungkas dari seri Divergent ini akan dipecah jadi dua. Pasalnya sejak awal, seri ini melangkah terseok-seok untuk menggaet penonton non-reader. Materi dari novelnya sendiri tidak relevan jika dibagi dua, yang jelas merupakan sebuah usaha untuk memperpanjang kisah ini. Dari keseluruhan film yang mengalami pemindahan materi dari novel ke film, mungkin hanya Harry Potter yang materinya paling layak dibagi menjadi dua film, sementara yang lainnya tentu saja hanya sebuah usaha mengeruk keuntungan, termasuk juga Allegiant ini. Masalahnya apakah penonton masih benar-benar punya minat untuk menyaksikan keduanya? Divergent tidak bisa dikatakan luar biasa, meskipun tidak sepenuhnya buruk juga. Insurgent meskipun penuh aksi, nyatanya juga tidak mampu menyamai prestasi Divergent. Jelas butuh usaha ekstra keras bagi seri pamungkas bagian pertama yang diberi judul Allegiant ini untuk mendapat kepercayaan dari penontonnya. Meskipun masih digawangi oleh Roberts Schwentke dan dipastikan seluruh cast lama kembali, tidak membuat Allegiant meledak di pasaran.

Mar 11, 2016

London Has Fallen Review

"..make no mistake, we will find you, and we will destroy you" 
Dari judulnya sudah jelas, ini adalah sekuel dari Olympus Has Fallen yang di tahun 2013 pernah menyapa kita di bioskop. Meskipun kisahnya mudah ditebak, tapi banyak yang menyukainya karna kadar action plus violence-nya yang tinggi. Hasil box office yang cukup besar kala itu tentu saja tidak bisa disepelekan begitu saja meskipun untuk kisah semacam ini sebenarnya tidak membutuhkan sekuel. Tahun ini sekuelnya dirilis dan bukan lagi Gedung Putih yang pertahanannya ditembus, tapi kota London yang menjadi saksi aksi terorisme. Tentu saja sekuelnya ini masih diperankan oleh 3 pemeran film sebelumnya yakni Gerard Butler, Aaron Eckhart dan Morgan Freeman. Penyutradaraannya tidak lagi dipegang oleh Anthony Fuqua, tapi berpindah ke Babak Najafi, seorang sutradara asal Iran dan ini adalah film pertamanya yang berbahasa inggris. Bukan tugas mudah melanjutkan kesuksesan seseorang dan Najafi punya tanggung jawab yang cukup besar.


Mar 8, 2016

Zootopia Review


"Life's a little bit messy. We all make mistakes. No matter what type of animal you are, change starts with you"

Lahir dari tangan Disney, yang sebelumnya sukses lewat Tangled, Wreck-It Ralph, Frozen dan Big Hero 6, Zootopia setidaknya sudah mendapat kepercayaan besar lewat para senior-seniornya yang secara kualitas tidak perlu diragukan lagi. Dari segi cerita pun, film-film Disney juga kualitasnya tidak kalah dengan Pixar yang saat ini memang paling unggul untuk urusan film animasi, baik dari segi teknis maupun penceritaan. Lantas apa yang bisa dijual oleh Zootopia? Apalagi film animasi dengan karakter-karakter binatang sudah bukan hal yang luar biasa lagi. Mau tidak mau Zootopia harus lebih kreatif dari segi cerita. Dan mengingat ini datang dari Disney, yang film terakhirnya, Big Hero 6, mampu membuat sebagian besar penonton berkaca-kaca, we need to trust in Zootopia, bahwa Zootopia bukan hanya sekitar kisah fabel belaka. Apalagi, public reception juga luar biasa bagus. Rating 98% fresh di rottentomatoes.com adalah prestasi besar untuk sebuah film animasi.

Mar 6, 2016

Talak 3 Review

"Menunggu sesuatu yang tidak pasti itu memang menyakitkan.."

Lagi-lagi film Indonesia. Bulan februari kemarin memang banyak film Indonesia yang bagus dirilis. Untungnya setelah masih kebagian A Copy of My Mind (yang tayang cuma seminggu di bioskop di kota saya), seminggu kemudian saya menguatkan tekad nonton Talak 3 dan terpaksa mengesampingkan Zootopia. Kalau dipikir-pikir, saya juga bingung kenapa saya bisa nekad nonton film ini, karna sebenarnya saya juga kurang tertarik melihat poster (apalagi trailernya). Tapi respon dari para movie blogger yang luar biasa lah yang membuat saya tertarik menyaksikan film ini. Ditambah ada dua aktor Indonesia favorit saya menghias daftar pemerannya, yakni Vino G. Bastian dan Reza Rahadian, akhirnya Talak 3 berhasil membawa saya duduk manis di kursi bioskop, dimana hal ini adalah hal yang amat jarang terjadi, bahkan oleh film-film Raditya Dika sekalipun, yang meskipun hampir selalu jadi juara box office Indonesia, tapi gak pernah berhasil menarik minat saya sedikitpun.


88th Academy Awards: Full Winner List


Super telat! Yes, perhelatan Oscar sudah diselenggarakan tanggal 28 Februari 2016 kemarin (29 Februari pagi disni) dan saya telat posting! Ya, kebiasaan telat ini sudah sering terjadi setiap tahunnya. Karna kemarin saya bener-bener baru nyelesaikan nonton film yang masuk nominasi tanggal 29 Februari dinihari (tepatnya nonton The Danish Girl waktu itu tengah malam, selesainya jam setengah dua malam), jadilah saya gak punya kesempatan buat bikin list prediksi sebelum acara. Bahkan pas acara pun saya nekad streaming di tengah jam kerja sambil live tweeting! Dan akhirnya baru kali ini lah saya berhasil membuat tulisan soal 88th Academy Awards. Sebenanrnya kemarin punya niatan bikin list prediksi dan dipublish sehari sebelum acara, trus dilihat deh berapa banyak tebakan yang bener, tapi apa daya niatan itu lagi-lagi mesti pupus karna gak punya banyak waktu buat ngabisin film-film Oscar dan lebih milih film-film rilisan terbaru.

Feb 20, 2016

Deadpool Review


"Whatever they did to me made me totally indestructible... and completely unfuckable"

Perlu ditekankan sekali lagi, Deadpool sebenarnya adalah antihero, ya karna dia sebenarnya brengsek tapi dia memerangi orang yang lebih brengsek dari dia, seperti yang dia bilang dalam filmnya. Setelah kemunculannya yang banyak dikritik di X-Men Origins: Wolverine karna tidak sesuai dengan penggambaran Wade Wilson/ Deadpool yang ada di komik, Deadpool akhirnya punya film sendiri tahun ini. Masih dibintangi Ryan Reynolds (yang memang ngotot banget supaya Deadpool punya film sendiri), film ini punya materi promo besar-besaran yang luar biasa unik, lewat gambar-gambar atau viral video yang nyeleneh dan bahkan cenderung 'mengganggu' poster film lain (ingat poster Mockingjay yang diparodikan sama Deadpool? Yes, he's an ass). Materi promo ini rupanya mampu menarik minat khalayak di tengah menjamurnya film bertema superhero, yang mungkin bahkan sebenarnya tidak pernah tau Deadpool itu siapa, asal keliatan pakai kostum superhero pun langsung dianggap mirip Spider-Man. Tapi sekali lagi, Deadpool itu antihero, karna kalau disebut superhero rasanya kurang layak juga.


Feb 16, 2016

A Copy of My Mind Review

"Oh kalo mau nyari yang bagus ya nyari yang asli lah, bajakan masa lu protes?"
Rasanya sudah lama sekali semenjak terkahir kali saya nonton film Indonesia di bioskop, tapi film ini rasanya adalah sebuah pengecualian. Sebelum tayang di bioskop secara luas februari tahun ini, A Copy of My Mind yang sejatinya adalah film rilisan tahun 2015, sudah mondar-mandir di berbagai festival internasional semacam Toronto International Film Festival dan Venice Film Festival tahun 2015. Bahkan pada Festival Film Indonesia tahun lalu, film ini memenangkan 3 Piala Citra dari 7 nominasi, yakni Pemeran Utama Wanita Terbaik untuk Tara Basro, Sutradara Terbaik untuk Joko Anwar, dan Penata Suara Terbaik. Semua predikat ini pastinya ikut menaikkan prestise dari A Copy of My Mind. Semenjak Joko Anwar terlibat sebagai penulis dalam film Arisan! yang legit itu, I'm completely adore his works. Jadi ketika mendengar Joko Anwar kembali duduk sebagai sutradara dari film A Copy of My Mind, I'm super excited. Apalagi dengan embel-embel yang sudah tersebut di atas, rasanya melewatkan film ini adalah sesuatu yang mustahil.

Feb 6, 2016

Room Review

"There are so many things out here. And sometimes it's scary. But that's ok. Because it's still just you and me..."
Ruang? Kamar? Kalau saya lebih menafsirkan ke arah ruang ketimbang kamar setelah menyaksikan filmnya. Kisah film ini diangkat dari novel berjudul sama karya Emma Donoghue yang sekaligus ditugaskan sebagai penulis skenario film ini. Sutradaranya adalah Lenny Abrahamson yang di tahun 2014 juga meyutradarai Frank. Bukan nama-nama yang familiar memang, karna memang film ini tergolong film indie, bahkan didistribusikan oleh A24 di US, yang memang langganan memproduksi film-film low budget. Secara mengejutkan film ini memperoleh 4 nominasi di ajang Oscar tahun ini, yakni Best Picture, Best Director, Best Actress untuk Brie Larson dan Best Adapted Screenplay. Khusus Brie Larson yang beberapa tahun terakhir mulai mencuri perhatian, namanya menjadi salahsatu alasan saya menyaksikan film ini.